"Tentu saja, kau ini bodoh ya? Buat apa kita berhubungan kalau tidak ada rasa cinta dalam hatiku"
"Apa kau serius?"
Pria bermata biru itu duduk di samping kekasihnya, "Kau ragu padaku?"
"Tidak. Tentu saja tidak. aku percaya padamu setulus hatiku"
***
Aku menghela napasku panjang dengan pelan. Cuaca di New York sedang tidak baik. Musim salju turun dengan cuaca yang sangat dingin. Tapi aku berharap cuaca yang dingin ini tidak mengganggu suasana hatiku yang hangat. Ya suasana hatiku hangat berkat pria yang mengisi hatiku kini. Nama nya adalah Cello. Pria dengan mata berwarna biru dengan rambut berwarna cokelat gelap. Dia berhasil meluluhkan hatiku. Kini namanya sudah trepahat dengan jelas dihatiku."Lexi kemari sebentar, Mom and Dad mau bicara.", Mom memanggilku saat aku baru saja sampai dirumah.
"Kau tau perusahaan kita akan hancurkan?", Daddy memulai pembicaraannya.
Aku hanya mengangguk cepat. Sungguh aku tidak tau kemana arah pembicaraannya, tapi ku harap ini bukan rencana mereka untuk mengajak ku pindah lagi. Ini sudah ketiga kalinya pindah rumah, ini karena pekerjaan Daddy sebagai pengusaha. Aku berpikir aku ini seperti makhluk nomaden.
"Begini, besok Dad harap kau tidak akan kemana-mana. Ada pertemuan yang harus kau hadiri. Ini demi masa depan perusahaan kita."
"Maksud Dad apa? Kemana sebenarnya arah pembicaraan kita? Dan siapa yang harus aku temui?"
"Besok juga kau akan tau. Sekarang cepat ganti baju dan setelah itu makan."
Aku mengernyitkan dahiku, biarkan saja lah paling hanya relasi Dad.
***
Ini adalah acara makan malam yang paling membosankan, aku dilarang Mom and Dad untuk beranjak dari ruang tamu. Itu semua karena anak laki-laki keluarga teman Dad yang bernama Kevin belum datang juga. Kalau dia temanku dan kalau saja tidak ada orang tuanya, mungkin saat dia datang akan ku pukul wajahnya. Setelah setengah jam menunggu Kevin akhirnya dia datang juga. Dengan balutan kemeja berwarna marun, kulit putihnya terlihat sangat jelas.
"Lexi kenalkan ini anak om, namanya Kevin.", setelah dikenalkan kami berdua maksudku aku dan si menyebalkan ini saling berjabat tangan.
"Oh jadi ini calon suami putri saya"
Mataku langsung saja membulat, tubuhku kaku dan dengan seksama otakku bekerja untuk mencerna kata-kata Daddy barusan. Dan yang lebih menyebalkannya lagi, pria bernama Kevin itu hanya duduk diam dengan santai dan tanpa mengeluarkan bantahan sekalipun. Bisa ku tebak dia adalah anak yang sangat menuruti kata-kata orang tuanya.
"Daddy apa-apaan sih ini? ini sangat konyol.", aku mengeluarkan bantahan dengan wajah yang tidak enak di pandang.
"Maaf saya dan Lexi harus ke dalam sebentar.", Mom memberi isyarat untuk aku mengikutinya ke dalam.
"Jelaskan", kataku sinis dengan menekan setiap ejaan yang keluar dari mulutku.
"Perusahaan akan bangkrut, jadi untuk menyelamatkan perusahaan inilah yang harus dilakukan."
"Mom tapi ini gila, bagaimana dengan Celloi? Aku mencintainya Mom!!"
"Lupakan dia", ucap Mom santai lalu kembali ke ruang tamu.
***
"Kau merindukanku? Aku sangat merindukanmu"
"Aku di jodohkan Cell"
Seketika taman kota New York yang biasa aku datangi bersama Cello berubah menjadi sunyi. Hanya terdengar suara lalu lalang kendaraan. Selama dua minggu aku dikurung di rumahku. Ini saja aku lari dari rumah, padahal pernikahanku dengan seseorang bernama Kevin itu akan dilakukan pukul 8 malam nanti.
"Kau bercandakan? Ini sama sekalai tidak lucu.", bantah Cello sinis.
Aku mengeluarkan sebuah undangan pernikahan yang ku bawa khusus untuk kekasihku yang sebentar lagi akan menjadi mantan kekasihku. Aku mejulurkan tanganku dan memberikannya undangan itu.
Terlihat sangat jelas mata Cello membulat dan tak berkedip sedikitpun saat membacanya.
Ku sentuh tangannya dengan perlahan, lalu ku genggam. "Apa yang harus aku lakukan Cell? Ini membuatku gila, kau tau kan aku sudah memiliki kamu."
"Baru saja kita melewati hari ini bersama setelah dua minggu kau menghilang. Tapi kau membawaku kabar buruk. Sangat buruk."
Ya beberapa waktu yang lalu kami menghabiskan waktu berdua. Kami photobox, kami makan ice cream berdua, main sepeda di taman kota. Tapi ini yang harus aku sampaikan sebelum semua terlambat dan Cello membenciku.
"Aku lemah Cell, ini semua di luar pemikiranku. Dan aku yakin aku sedang menjadi buronan, karena lari dari rumah."
"Kau yakin kau sangat mencintaiku?", aku mengangguk dengan jelas.
"Kau mencintai orang tua mu?", lagi-lagi aku mengangguk lemah
"Kalau begitu turuti mereka Lex. Bagaimana-pun mereka adalah orang terpenting dalam hidupmu. Aku mencintaimu Lex, sangat mencintaimu. Pergilah bersama pria itu, tapi jangan pergi dari hidupku. Aku bisa menunggumu Lex."
Tangisku kini pecah, aku tidak peduli semua mata memandang ke arahku yang aku pikirkan hanya bagaimana hidupku selanjutnya. Bagaimana aku harus melihat Cello menungguku yang tidak tau waktu. Cello mengelus rambutku lembut.
"Ikut aku."
Kini kami berada di sebuah danau, Cello membawaku ke sebuah danau. Di atas sampan kecil yang kami naiki, kami saling terdiam bekutat dengan pikiran masing-masing.
"Sebentar lagi aku akan menjadi ng lain. Tapi harus kau tau aku tidak akan melupakanmu. Nanti pasti aku akan sendiri menghadapi masa-masa sulitku. Tidak akan ada lagi kamu yang mengangkatku saat aku jatuh. Aku akan menjadi orang lain di dalam keluarga ku nanti, tapi aku akan menjadi aku saat aku bersamamu. Kau bisa melupakanku kalau kau mau, aku tidak ingin melihatmu menunggu yang tak pasti. Aku benci melihatmu terluka."
Cello menggenggam tanganku, membelai lembut wajahku dan mengahapus air mataku. Dan aku sangat yakin, aku akan merindukan sikap lembutnya.
You're not alone
together we stand
i'll be by your side
you know i'll take your hand
when it gets cold
and it feels like the end
theres no place to go you know i wont give in
no i wont give in.
together we stand
i'll be by your side
you know i'll take your hand
when it gets cold
and it feels like the end
theres no place to go you know i wont give in
no i wont give in.
Keep holding on
'cause you know we'll make it through, we'll make it through
just stay strong
cause you know i'm here for you, i'm here for you
theres nothing you can say, nothing you can do
theres no other way when it comes to the truth
so keep holding on
cause you know we'll make it through, we'll make it through.
'cause you know we'll make it through, we'll make it through
just stay strong
cause you know i'm here for you, i'm here for you
theres nothing you can say, nothing you can do
theres no other way when it comes to the truth
so keep holding on
cause you know we'll make it through, we'll make it through.
Ini lagu yang sering Cello nyanyikan saat aku merasa terjatuh. Sekarang aku yakin aku tidak sendirian. Jika aku terjatuh, masih ada Cello yang akan terus mengangkat dan menerimaku.
***
"Ingat masih ada aku, jangan menangis oke? Kau sudah janji tadi."
Pukul 4 tepat aku di antar Cello ke tempat di mana aku harus ada, rumahku. Terlihat banyak orang suruhan Dad yang langsung menyambut dan memintaku masuk ke dalam. Aku masuk sambil membawa rangkaian bunga untuk pernikahanku yang di berikan oleh Cello.
Cinta itu tidak harus memiliki kan? Tapi ada kalanya cinta tanpa memiliki itu sangat menyakitkan. Tapi ku harap aku akan memperoleh kebahagiaan suatu saat nanti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar