it's all about me !!

Foto saya
This is an Imaginary world . love doesn't require me to be perfect, but it does require me to forgive. visit www.echisechis.tumblr.com

Jumat, 30 September 2011

Might be Love

ini adalah sebuah cerita yang bagi kami atau kalian para 'BELIEBERS' anggap hanya sebuah mimpi. dan mohon maaf apabila para pembaca di menyukai karya saya ini. kritik dan saran d terima ;)

******************************************************************************

Hari ini lagi dan lagi Aku harus pergi kesekolah dengan bus. Sebenarnya Aku sudah sering meminta Mom untuk memberikanku kendaraan sendiri, tapi Mom tidak mengizinkan.

Namaku Alexis Violin Craven, tapi teman-temanku lebih mengenal ku sebagai Lexi Craven. Aku mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Fernando Cello Craven. Kami berdua hanya berbeda 2 tahun Aku kini duduk dikelas 3 SMP dan Nando dikelas 2 SMA.

Hari ini Nando pergi berangkat lebih awal tanpa menungguku. Menyebalkan memang anak itu.

Seperti biasa Aku keluarkan Ipodku lalu ku masukan di saku jaketku. aku menutup mataku lalu bersenandung kecil. Tapi tiba-tiba seseorang menepuk bahuku.
“Apa kursi disebelahmu kosong ?”
Aku tidak menjawab dan malah terpaku dengan wajahnya yang dihiasi oleh senyuman manisnya itu.
“Excuse me”, katanya lagi menyadarkan lamunanku.
“Haah?apa ?”
“Apa kursi disebelahmu kosong?”
“ Oh iya”
“Boleh Aku duduk??”
“Silahkan”, kataku dengan ramah.

Jantungku tiba-tiba berdetak dengan kencang. Wajahnya saat itu berkeringat sepertinya lelaki itu habis berlari mengejar bus ini. Tapi wajahnya yang berkeringat itu yang membuatnya semakin tampan .

**

Hari ini ada pertandingan basket antar sekolah dan aku adalah pemandu soraknya. Aku sudah siap. Tapi tiba-tiba saja Aku mengingat kejadian di bus tadi . Wajahnya terus muncul di pikiranku, dan mengingat senyumnya tadi membuat Aku tenang. Aku senyum-senyum sendiri dan saat Aku manatap lurus kearah kaca, terlihat wajahku merah seperti kepiting rebus.

“Lexi”
“Ada apa michelle?”, michelle menghampiriku, dan Aku hanya bisa menutup kedua pipiku.
“Tak apa, sedari tadi aku manggilmu tapi kau tak mendengarku”
“Maaf”, kataku polos
“Hey ada apa dengan wajahmu??”
Oh tidak michelle sadar wajahku aneh.
“Haaah tidak apa-apa”, dustaku.

“Hei kalian berdua, cepat! Kita harus tampil”
Kapten timku sudah berteriak memanggil kami.

**

Wajah itu muncul kembali, apakah ini hanya ilusi saja ? Atau ini hanya sebuah fatamorgana saja?
Ku tutup mataku, dan saat ku buka ternyata ini memang bukan mimpi.
Anak laki-laki itu memang anak yang tadi kujumpai di bus. Astaga ternyata dia anak SMP tetangga.
Dia bermain basket dengan lihai dan lagi-lagi Aku melihat wajah tampannya yang berkeringat. Enam ! Dia memakai nomer punggung enam, itu angka kesukaanku.
Tapi saat Aku terus tersenyum memandangnya, tiba-tiba saja dia terjatuh. Sepertinya kakinya terkilir.

“Lexi cepat buka ruang uks”
Steve mengagetkanku yang dari tadi hanya diam terpaku melihat dia kesakitan.
Tapi apa separah itu sampai harus di bawa ke uks ?

Hari ini Aku yang bertugas memegang kunci uks. Selain anggota pemandu sorak, aku juga anggota palang merah remaja. Maka dari itu, Aku yang harus mengurus siapapun yang terluka.

Aku berjalan ke arah uks, yang lain mengikuti Aku dari belakang.

Sekarang hanya ada Aku dan lelaki bernomor punggung 6. Aku hanya membalut kakinya karena tadi ia sudah di pijat di lapangan.

“Minumlah”, kataku sambil menyodorkan segelas air putih.
“Thanks”
Ia meneguknya sampai habis, lalu memberikan gelasnya padaku.
“Namaku Skandar, namamu?”
Astaga apa aku sedang bermimpi? Laki-laki itu mengulurkan tangannya dan menanyakan namaku.
“Kau menanyakan namaku?”
“Tentu saja, memang ada siapa lagi disini? Kau ini lucu ”, katanya sambil sedikit tertawa
“Namaku Lexi Craven”, kataku sambil manjabat tangannya.
“Nama yang bagus, oh ya apa kau gadis yang tadi ada di bus?”
“Benar”



Semenjak hari itu Aku dekat dengannya, Aku sering pergi kesekolah bersama. Dan sepertinya Aku menyukainya. Dia tampan, seorang pemain basket, dan seorang yang baik. Tak heran jika sepertinya Aku menyukainya.

Hari ini terakhir ujian, Aku ada janji dengan Skandar. Aku akan main basket bersamanya. Ini bukan pertama kali kami main basket bersama, sebelumnya kami sudah sering sekali.

Aku pulang dan ganti baju. Setelah itu aku menyiapkan roti isi selai kacang dan membawa minum. Lalu aku mengayuh sepedaku sampai lapangan basket.

sesampai disana terlihat Skandar yang duduk di tengah lapangan, aku mengambil kamera andalanku di keranjang sepeda lalu memotretnya cepat agar Skandar tak tau. lalu aku menghampirinya.
" hey maaf aku terlambat. sudah lama?"
"lumayan"

kami bermain basket bersama, tapi entah setiap aku bersamanya meskipun bermain basket sekalipun aku tetap senang.

selama permainan berlangsung Aku selalu kalah, itu tidak heran Skandar kan pemain basket yang handal. yang membuat aku sangat kesal saat Skandar mengejek karena permainan ku yang tak sebaik permainannya.

kami lelah.
"ini untukmu", kataku sambil memberikan roti selai kacang beserta minum yang tadi aku bawa.
"thanks"

tiba-tiba Skandar memegang tanganku sambil tersenyum. aku menatap wajahnya sambil menunggu jawabannya.
"Helena menerima cintaku"

**

aku pulang ke rumah, duduk di bibir tempat tidur. dan tanpa sadar airmataku mengalir.
aku menangis.



Aku senang mendengar sahabatku memiliki kekasih. Tapi apa harus aku mengorbankan perasaanku ini? Apa harus aku menyingkirkan perasaanku untuk sementara waktu? Tapi sampai kapan ? Apakah sampai mereka berpisah kembali? tapi apakah itu bukan waktu yang sebentar ?


Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dalam benakku. Apa harus aku melakukan itu semua?

Tiba-tiba saja Nando mengetuk pintuku lalu masuk .

“Ada apa?”, kataku sambil menutup wajahku dengan bantal
“Harusnya Aku yang harus bertanya seperti itu! Ada apa ? Dari tadi Aku mengetuk pintu kamarmu!”
“Tidak ada apa-apa”
“Yakin?”
“Ya”
“Kalau begitu, ayo cepat ganti baju.”
“Untuk apa?”
“Main basket”
“Aku sedang tidak ingin”
“Bagaimana dengan skate park? Apa kau mau?”
“Baiklah tunggu di luar”

**

Aku sampai di skatepark, aku menenteng kameraku. Nando langsung saja bermain, sedangkan aku hanya duduk diam di pinggir sambil mencari objek yang bagus.

“Lexi, apa kau tak ingin bermain? Jangan duduk diam saja”
“Aku malas”
“Pemalas”
“Aku ingin mencari objek foto”

Aku menaiki skate ku dan menjauhi Nando.


Aku berhenti saat melihat sepasang kekasih sedang duduk membelakangiku. Si lelaki merangkul kekasihnya itu. Ini objek foto yang lumayan bagus, aku lalu membidiknya.

Saat Aku tersadar lelaki itu siapa, kamera ku hampir saja terlepas. Aku terpaku saat melihat lelaki itu mengecup kening kekasihnya.

Airmataku mengalir lagi, aku langsung berlari membawa skateboard ku. Tapi ternyata Aku terlambat, Skandar melihatku .

“Lexi!”
Aku cepat-cepat menghapus airmataku, lalu berbalik.
“Kebetulan sekali”, katanya
“Ya kebetulan sekali”
Skandar menarik perempuan itu, dan ku rasa ini Helena.
“Kenalkan ini Helena”
Helena tersenyum kepadaku,“ aku helena. Kau pasti Lexi. Skandar sering menceritakanmu”
Aku hanya tersenyum menanggapinya.
“Apa kau sendiri? Mau bergabung?”
“Tidak aku bersama Nando. Maaf aku buru-buru”

Aku lalu menaiki skate ku lagi, dan langsung pergi meninggalkan sepasang kekasih tadi.


Sesampainya. Aku hanya diam di pinggir, kembali duduk dan menundukan kepalaku.

“Kau kenapa?”
Aku tak menjawab pertanyaan Nando.
Tiba-tiba saja Aku menangis, aku memeluk Nando erat.
“Ceritakan semua padaku”

Aku menceritakan semuanya secara detail, tak ada bagian yang terlewatkan sedikitpun. Nando menunjukan sifat seorang kakak yang baik saat ini. Aku terus menangis tanpa henti, sampai akhirnya aku lelah dan tidak bisa lagi menangis.
“Apa aku salah? Apa aku harus mengorbankan semuanya? Apa aku harus menjauhinya?”
“Sudahlah. Tidak ada yang dapat kau perbuat lagi. Mungkin dia bukan jodohmu. Dan mungkin di lain hari kau akan mendapakan yang terbaik dari ini”
Aku hanya mengangguk. Nando memelukku.

**


waktu cepat berlalu, sudah 6 bulan lamanya aku jarang bertemu dengan Skandar, bahkan tidak pernah. kalaupun aku bertemu dengannya, dia pasti sedang sangat sibuk. Aku rasa dia terlalu sibuk bersama Helena. Biasanya setiap hari dia menghubungiku, tapi kini tidak.
Tapi kabar yang aku dengar akhir-akhir ini, hubungan Helena dan Skandar telah berakhir. Apa benar?



Hari ini Aku menunggu hasil kelulusanku. kelulusa yang menentukan apa aku bisa masuk high school ternama apa tidak. Semua murid sudah berkumpul di aula.




2 jam kemudian....
Jeritan murid-murid sudah terdengar dimana-mana, begitu pula aku. Aku LULUS, betapa bahagianya Aku. Aku yakin Mom and Dad senang mendengar ini semua. Bagaimana dengan Skandar? Apa dia lulus?
Ah apalagi yang harus aku pikirkan, dia saja tidak mengingatku.

“Lexi! Kamu akan meneruskan dimana?”
“Entahlah, tapi mungkin Aku akan lanjut ke art school. How about you?”
“Aku akan ke Amerika bersama ayah dan ibuku”
“Kalau begitu selamat michelle”

Tiba-tiba ponselku berbunyi.

From : Mom
Lexi, cepat pulang. Mom and Dad ingin bicara.

**

“Apa mom? Apa harus? Tidak bisa di undur?”
“Maaf Lexi”

Aku berlari masuk kekamarku. Aku menangis.
Mom bilang Aku harus pindah ke Atlanta. Bukan hanya Aku tapi semua keluargaku.
Sebegitu jahatkah mereka? Kenapa tidak bertanya dulu?

Bagaiman dengan Skandar? Aku pasti tisak dapat bertemu denganya lagi. Aku harus memberitaunya.walau aku tak yakin apa dia akan mengangkatnya.
aku rindu sekali dengannya, aku rindu rangkulannya, aku rindu tangannya yang besar, aku rindu senyum manisnya, aku juga rindu canda guraunya.
betapa bodohnya aku, seorang Lexi Craven mencintai seseorang yang tidak mencintai diriku.


Ku hubungi ponselnya, tapi tak ada jawaban sama sekali.
3 kali Aku hubungi dia, tapi sama sekali tidak ada jawaban.

To : Skandy
Besok temui aku di taman. Jam 5 sore.

**

Hari cepat berganti, ini sudah pukul 5 sore. Sudah setengah jam Aku menunggunya. Aku terus duduk di bangku taman, menunduk dan mengelus kedua lenganku. Cuaca sedang tidak baik, begitu dingin.
 aku terus memegang suatu benda, yang ingin aku berikan untuk skandar sebagai kenang-kenangan.
dan sesekali aku beranjak ke sepedaku, lalu menatap lurus ke depan dengan pandangan mencari-cari.

Setengah jam berlalu.
Ini artinya sudah satu jam Aku menunggu. Kenapa sulit sekali bertemu dengannya?!

Aku mengiriminya pesan singkat.

To : Skandy
Kenapa belum datang? Aku akan menunggumu. Sampai kapanpun.

Tapi tidak ada balasan. Aku menunggunya terus menerus. Sampai akhirnya bibirku membiru dan tubuhku sudah tidak dapat bertahan. Aku jatuh tak sadarkan diri di bangku taman.dan benda itu masih aku pegang.

**

aku terbangun di pagi hari, di sebuah ruangan berwarna ungu. Aku rasa aku mengenal kamar ini. Aku memalingkan wajahku, ada seorang pria tidur di sofa. Ternyata dia Nando, dan ternyata ini kamarku. Tapi bagaimana Nando bisa tau aku ada di taman kemarin sore?

Keadaanku sudah agak membaik dan Aku ingat hari ini aku harus berangkat ke Atlanta. Aku beranjak dari tempat tidurku, lalu membereskan pakaianku ke koper. Aku harus mengemas semuanya secepatnya.

“Hei! Kau sudah bangun?”, nando terbangun dari tidurnya.
“Ya. Apa aku membangunkanmu?”
“Tidak”, katanya sambil berjalan keluar kamarku.

Semua sudah ku masukan, bahkan foto-foto di meja bekajarku Aku bawa. Oh ya, tak lupa kameraku.
Aku masuk ke kamar mandi, mandi dan bersiap.



“Lexi cepat sedikit!”
Mom sudah berteriak.

**

Aku sudah berada di dalam pesawat. Duduk manis di samping kakak ku. Pesawatku akan lepas landas. Aku memakai sabuk pengamanku. Ku pandang tempat asalku yang semakin mengecil.
Aku pergi meninggalkan kenangan-kenanganku bersama teman-teman, kenangan-kenangan tentang Skandar. Dan yang paling membuat aku sakit adalah aku meninggalkan cinta pertamaku, aku meninggalkan si nomer enam. Skandar, aku meninggalkan Skandar. Cinta pertamaku yang menghilang.

air mataku tiba-tiba mengalir, aku akan merindukannya.
Lexi Craven merindukan seorang Skandar Keynes, yang adalah sahabatnya sendiri. yang sudah mencintai orang lain walaupun aku yakin apa masih bertahan atau tidak.

aku takut..
aku taku bila suatu saat aku tidak dapat melupakannya, aku takut bila suatu saat aku tidak dapat menerima cinta orang lain karenanya, aku takut bila aku akan terus menangis karena merindukannya, dan aku takut bila cintaku ini akan hilang.
sebenarnya aku tak tau apa mauku, tapi cinta ini sangat rumit. semua kisah akan tersusun rapi dalam hatiku.
bahkan kisah saat pertama aku bertemu sengan si nomer enam.
aku akan mengingat itu semua, aku akan menyusunnya tanpa menghilangkan kisah saat aku melihat skandar mencium Helena di depan mataku.

aku merogoh saku jaketku, ku keluarkan sesuatu dan mengingat benda itu.
sebuah botol kaca yang berisi bintang kertas. benda itu adalah benda yang ingin ku berikan saat aku akan menemui Skandar di taman.



Aku sudah sampai di tempat dimana aku akan membuka semua lembaran baru kehidupanku, dan tempat dimana aku akan menjalani semua lika liku kehidupan lembaran baru ku. Dan aku juga akan mencari sosok lain yang dapat menggantikan sahabatku, dan cintaku Skandar.
tapi apa Aku bisa?
apa aku bisa mencari penggantinya?
dan apa sosok Skandar diganti dengan sosok lain? sosok orang Atlanta.


Aku berjalan sambil menggenggam erat tangan kakaku.
"Ka, apa kau senang pindah kesini?"
"biasa saja, mau London ataupun Atlanta kita pasti akan tetap hidup. yang kita tidak tau adalah bagaimana kehidupan kita mulai dari saat kita menginjakan kaki di sini, di Atlanta"
aku hanya mendengarkan dengan baik dan mengangguk. betapa dewasa dan rendah hatinya Nando. padahal AKu tau, dia pasti sangat sedih. kekasihnya ada di London. dan pasti Nando harus meninggalkan kekasihnya karena kepindahan kami.
aku tau apa yang ia rasakan, karena saat ini aku merasakannya. walaupun dia bukan kekasihku. tapi dia adalah orang yang sudah menempati hatiku.
"bagaimana denganmu?", Nando bertanya balik
"doakan saja Aku bisa tersenyum seperti saat di London"
"kenapa bisa seperti itu? apa karena dia?"
aku terdiam karena memang itu alasanku. aku tidak bisa mengelak, karena me3mang itu yang aku rasakan.
"kau pasti tau Aku lebih memprihatinkan, tapi aku belajar untuk menerima ini. kau harus yakin kau akan menemukan yang terbaik dan pastinya lebih baik dari oarng itu", jelas Nando dengan menekan kata "orang itu"

Seketika wajahnya muncul didalam pikiranku saat mobil yang membawa kami pergi meluncur di tangah keramaian Atlanta. tapi saat ini aku tak ingin mengingat wajahnya. AKu tidak mau perasaan menyesalku datang.

**

"Lexi disini ada sekolah seni. apa kau mau mendaftar?"
"terserah Mom"
"baiklah besok kita akan mendaftar"
aku hanya mengangguk.
"dan mulai minggu depan mungkin kau bisa mendapatkan SIM dan mobilmu."
"thanks Mom"

dulu memang Aku ingin sekali punya mobil sendiri. tapi semenjak bertemu dengan Skandar di bus Aku tidak tertarik lagi membawa mobil ke sekolah.


sudah sampai . aku sudah sampai ke rumah baru ku. cukup besar tapi Aku pasti akan tetap menyukai rumah lamaku.
aku masuk kekamarku, dan kamar ini di tata dengan sangat apik dan menarik. tapi seperti kataku tadi Aku tetap akan menyukai kamar lamaku. ku buka isi koperku dan menyusunya sampai semua beres tanpa bersisa.

**

"Mom aku ingin berjala-jalan sendiri"
"jangan lama-lama"
aku mengacungkan jempolku.

aku sudah berada di calon sekolah baruku, dan sekolah ini cukup besar bahkan sangat besar menurutku. aku berjalan sambil menenteng kameraku. dan dari kejauhan Aku melihat seseorang duduk di taman. aku hanya melihatnya tak peduli.


entah rasanya aku malas untuk menghampirinya. aku berbalik. tapi langkahku terhenti saat sebuah harmoni keluar dari mulutnya,

"where are you now.. when I need You the most.."

Aku sangat menyukai suaranya, ini jujur. Aku melangkah perlahan mendekatinya.  

"...Help me when I'm down.."

saat Aku dekat dengannya, aku berhenti. sambil diam terpaku mendengar senandungnya. kurasa aku juga akan menyukai lagu ini.

".. so take my hand and walk with me.."

pandanganku terpusat oleh laki-laki itu. aku rasa aku sangat ingin tau siapa dia.



          "Apa kursi disebelahmu kosong?"

          "Namaku Skandar, Namamu?"

          "Nama yang bagus, oh ya apa kau gadis yang tadi ada di bus?"

          "Helena menerima cintaku"

sedikit percakapan dan ekspresi yang pernah aku lihat dari wajah Skandar tiba-tiba datang. Tersusun rapi bagai slide yang pernah Aku lihat di powerpoint.
lagu ini membuat aku sadar kalau aku sedang membtuhkan Skandar untuk mendengarkan semua ceritaku, atau mungkin deritaku. Tapi dimana dia? apa dia melupakan aku?

Skandar..
where are you now?

pertanyaan ini yang ada dalam benakku. Aku sangat membutuhkannya saat ini. Aku membutuhkan pelukannya, pelukan seperti dulu saat dia akan menenangkanku. pelukan seorang sahabat.

"..Where are you now.."

Senandungnya sudah usai. dan sepertinya ini waktuku untuk pergi. Aku tidak ingin dia menyadari Aku mendengarnya, Aku tidak ingin membuatya tidak nyaman. tapi siapa dia? apa aku akan bertemu dia lagi?
seorang laki-laki yang memakai topi NY ungu, aku harap kita dapat bertemu lagi.

**

Hari ini aku ke pantai bersama Nando. Aku juga bingung kenapa Nando tiba-tiba mengajakku pergi. tapi Aku senang, Nando tau apa yang aku inginkan saat ini.
tadi pagi Aku baru saja melihat cuplikan pantai Atlanta.
Aku ingin sekali mengajak Mom and Dad tapi mereka sedang sibuk, jadi kita hanya berdua saja.

aku menapaki pasir pantai Atlanta yang sangat lembut. Aku sangat senang berada di pantai. Nando sudah membuka bajunya dan bermain air, sedangkan aku memotret.

aku duduk sambil melihat-lihat hasil foto ku.
  


Aku mungkin tidak akan mau pulang. Pantai ini begitu tentram. Sudah lama rasanya Aku tidak merasakan ini semua. Rasanya begitu nyaman. Banyak sekali tenang yang kini mengisi hatiku, ketenangan yang aku rindukan.

“Lexi kemari!! Aku ingin menunjukan sesuatu”
Aku sedikit berlari menghampiri Nando. Entah rasanya beban di hatiku berkurang pesat. Mungkin karena Aku menemukan tempat yang membuatku nyaman.

“Bintang laut??”
Rasanya tak percaya, Aku melihat bintang laut secara langsung seperti ini. Dan masih hidup.
”Kau suka kan? Jadi tak usah nangis lagi seperti dulu”
aku tersenyum. Lalu memotretnya.

Nando masih mengingat dosanya dulu. Saat itu umur kami masih sangat kecil, aku punya satu bintang laut yang sudah di keringkan. Itu aku dapatkan dari sahabatku yang harus pindah dan entah sekarang ada dimana.
Tapi Nando menginjaknya, dan spontan Aku langsung menangis.

“Aku suka”, senyumku merekah.
“Tersenyumlah terus. Karena wajahmu akan terlihat lebih baik. Lupakan dukamu, Aku percaya kau adikku yang manis”
Wajahku terasa panas, kurasa Aku malu.
“Wajahmu merah seperti kepiting rebus. Jelek, sangat jelek”, katanya diiringi tawa ledekannya.
“Kau ini!”

Aku terdiam, sambil terus memperhatikan bintang laut itu.
Sedangkan Nando, menatap kearah depan.

Aku dan Nando sama-sama terdiam. Entah apa yang dia pikirkan.
Hanya desiran ombak yang ku dengar.

“Kau tau sampai sekarang aku masih belum bisa melupakan kekasihku”, Nando mengangkat suaranya.
“Benarkah?”
“Ya sama seperti perasaanmu yang belum juga bisa melupakan Skandar”
Aku terdiam, dan memang dugaannya tepat.
“Aku bohong bila aku mengatakan Aku sudah melupakannya, dan Aku munafik bila aku mengatakan itu. Karena bagaimana pun perasaan itu hanya mudah datang tapi tidak mudah untuk pergi”
Kata-kata Nando seakan menghujam jantungku, kata-kata sangat tepat.
“Aku tau itu sangat menyakitkan. Kau tau, aku dan kekasihku itu sering berandai-andai”
Aku menatap wajah kakak ku itu, tanda aku menunggu cerita selanjutnya.
“Walau Aku tau itu hanya cinta yang masih terlalu muda”
Nando langsung mengajakku berdiri, memegang tanganku erat dan memasang seulas senyuman diwajahnya.
“Mari kita melupakan mereka bersama? Apa kau mau?”
“Ya aku mau!”
“SEMANGAT!!”, teriak kami bersamaan.

**

Sudah tiga minggu lamanya aku bersekolah disini. Dan menurutku sangat nyaman untuk disini. Pikiranku berubah dengan cepat karena keadaan.

Tapi selama tiga minggu ini pula, Aku tidak mengenal banyak orang. Bahkan sahabatpun aku tidak punya.

Aku rindu masa-masaku saat menjadi pemandu sorak. Tapi kini rasanya Aku lebih tertarik masuk ke dalam dunia theater dan vocal. Itu salah satu alasan kenapa Aku ingin masuk ke Art High School.

Pria bertopi NY itu tidak pernah muncul lagi. Aku sangat berharap bisa bertemunya lagi. Aku ingin mengenalnya. Aneh memang aku ini.

Seperti biasa Aku lebih banyak menghabiskan waktu di taman sekolah saat jam istirahat di mulai. Menyalakan Ipod lalu memejamkan mataku sambil berbaring di atas rerumputan. Terkadang aku juga sering sedikit bersenandung, seperti saat ini.

“..I've never felt this way before. Everything that I do. Reminds me of you. And the clothes you left they lie on my floor. And they smell just like you. I love the things that you do.”

“When you walk away. I count the steps that you take”

“Do you see how much I need you right now??”

Aku langsung bangkit dan menenggelamkan wajahku kedalam kedua tanganku. Aku salah menyanyikan lagu. Kenapa aku harus menyanyikan lagu ini?

Segera ku lempar headphone yang ku pakai.


Seketika air mataku jatuh, entah apa yang ku pikirkan yang jelas wajah Skandar muncul kembali. Hadir di saat Aku ingin melupakannya. Hadir disaat suasana hatiku mulai pulih. Hadir disaat aku ingin memiliki penggantinya. Tapi ini begitu sulit, begitu banyak hal-hal yang rumit untuk ku kubur.

“When you're gone. The pieces of my heart are missing you. When you're gone. The face I came to know are missing too. And when you're gone. The words I need to hear to always get me through the day. And make it OK. I miss you..”

Aku mengangkat wajahku yang sudah mulai sembab ini.
Seseorang melanjutkannya.
Melanjutkan lagu nya.
Dan berhenti saat Aku memandangnya.

Suaranya begitu lembut.


“Kenapa tidak di lanjutkan? Suaramu bagus”

Aku hanya terdiam melihat wajahnya.

“Ini milikmu? Kau tau headphone ini cukup mahal”, dia memasang seulas senyuman.

Aku semakin terdiam.
Melihat senyumnya lalu menundukan lagi kepalaku.

Dia duduk di sampingku. Merangkulku dan membenamkan wajahku di dada nya yang belum terbentuk dengan sempurna itu.

“Menangislah dengan puas, kali ini aku pinjami dadaku. Tapi setelah itu kau harus berjanji, harus kembali tersenyum seperti biasanya”

Aku tidak mengenal dia. Tapi saat aku melihat topi NY ungu nya aku yakin dia si pria bertopi NY itu.

Aku bertemu pria bertopi NY ini.
Dan di pertemuan keduaku dia memelukku.

Pelukan ini sangat hangat. Air mataku membasahi tshirt nya. Dan aku akui pasti dia orang yang sangat baik. Dia tidak mengenalku tapi dia dapat membuatku nyaman. Kenyamanan ini yang sudah jarang aku dapatkan. Kesedihanku terus membelenggu hatiku.

Aku menangis tersedu-sedu.

Menangis di dadanya.
Menangis di dalam pelukannya.

Tak lama aku mengangkat wajahku.

“Sudah selesai? Sudah merasa baikan?”
Aku mengangguk.
“Sebenarnya ada apa denganmu? Sebentar ceria, sebentar murung”

Dia menyeka air mataku.

“Bagaimana kau tau?”, lirihku
“Aku sering memperhatikanmu. Kebetulan hobby mu sama denganku. Kita sama-sama suka kemari di saat jam istirahat”
aku hanya tersenyum.

Orang ini sangat baik.

“Aku Justin Bieber, panggil aku Justin atau apapun”
“Aku Lexi Craven, panggil aku Lexi”
“Baiklah Lexi, aku siap mendengar ceritamu”

Aku terdiam.

“Tak apa kalau kau tidak ingin menceritakannya padaku. Aku tidak memaksa”

“Bukan begitu, tapi kita baru saja kenal”

”Aku bisa menjadi sahabat baikmu. Mulai sekarang kita sahabat”

Aku tersenyum.
Aku percaya padanya.

Aku menceritakan semuanya.

Kenapa aku harus percaya?
Kenapa matanya bisa membuat aku percaya?
Mata dan senyum itu bisa membuat aku percaya.
Apa ini adalah magic? Apakah ini yang dinamakan dunia sihir?
Mata dan senyum itu seakan menghipnotis aku untuk dapat mempercayainya.

**

“Justin!!”
“Oh hai bro”
“Siapa dia? Teman baru?”, mata temannya Justin memicing. Dan itu membuat wajahnya terlihat bodoh.
“Begitulah, kenalkan Lexi ini teman-temanku”

“Aku Christian Beadles, panggil aku Chris”

Oh namanya Chris, si pria lucu yang memicingkan matanya.

“Aku Ryan Butler, just call me Ryan”

“Chaz somers, dan kamu bisa panggil aku Chaz”

“Kenalkan Aku Lexi Craven, panggil Aku Lexi. Senang bisa berkenalan dengan kalian semua.”

Aku harap dengan berteman dengan mereka, ingatan tentang Skandar menghilang .

“Justin temanmu sangat cantik”
“Chris jangan genit”
“Biarkan aku sedikit bahagia Somers, lagi pula Justin tidak keberatan. Iya kan?”
“Kata siapa Aku tidak keberatan? Aku sangat keberatan”
“Kau sama saja dengan si Somers”
“Sudahlah Lexi itu hanya ingin mendengar pujian dari ku”
“Percaya diri sekali kau Butler”

Aku hanya tertawa melihat tingkah mereka. Mereka begitu lucu.
Dan menyenangkan.

Aku harap Aku tidak salah mengenal mereka.

“Aku baru ingat, kau ini anak yang duduk di kursi paling belakang kan? Yang dekat dengan jendela?”

“Benar”, kataku membetulkan perkataan Chris.

“Dekat dengan tempat duduk kita”
“Benarkah? Kenapa Aku tidak tau?”
“Miss Craven. Bagaimana kau mau tau tentang kami, saat istirahat tiba saja kau sudah menghilang”
“Benar kata Chaz. Kau ini sama saja seperti si Bieber”

Aku dan Justin hanya bisa tertawa.

“Justin lihat itu”, Ryan menunjuk seseorang.
Raut wajah Justin berubah saat melihat wanita yang di tunjukan Ryan.

“Siapa dia?”, kataku ingin tau.

“Dia itu kakakku dan dia itu mantan kekasih Justin. Tapi sepertinya mereka akan kembali bersama”

Aku mengangguk.

“Sampai kapan kau memendam perasaanmu itu tuan bieber?”
“Beadles, diamlah sedikit. Seluruh sekolah bisa tau kalau begini caranya”
“Bukan begitu, tapi hanya memandangi dia dari jauh terus menerus, bukan laki-laki namanya”

“Dia gadis yang cantik. Dia pasti baik. Menurutku kau nyatakan saja perasaanmu itu”

“Aku setuju dengan Lexi”

“Belum saatnya, Somers bagaimana denganmu? Kau memojokanku padahal kau sendiri juga belum cukup jantan untuk mengungkapkan perasaanmu padanya”

“Ceritakan padaku siapa dia”, kataku antusias.

Aku mendengarkan cerita mereka secara rinci, Aku senang mereka mempercayaiku.
Aku senang mereka dapat membuatku bangkit.

Aku bisa kembali tersenyum

**

Dimanapun aku berjalan, pasti saja ada kisah cinta yang hadir.
kali ini bukan Aku yang mengalaminya.
Tapi sahabat baruku Justin Bieber. Cinta lamanya seorang gadis yang cantik. Dan aku yakin cinta itu akan kembali bersemi.

Karena bagiku, cinta itu adalah takdir. Takdir yang muncul dari sebuah ikatan murni.

Cinta itu indah.
Ya memang indah.
Karena semua tergantung pada mereka yang menjalankannya.
Tapi ada apa dengan cintaku? Kenapa cintaku hanya bertepuk sebelah tangan, hanya terjadi di satu pihak.

Cinta itu sangat rumit.
Dan hanya kekuatan yang dapat membuat cinta ini menjadi nyata.
'Might Be Love'



bagai menemukan sebuah jarum di dalam tumpukan jerami. itulah yang aku rasakan saat ini. aku bangkit dari keterpurukan cintaku karena dia si topi NY, karena Justin Drew Bieber. Rasa sakit dan benciku terhadap cinta, sedikit demi sedikit kurasakan memudar.
tapi inilah yang aku benci. karena saat ini juga aku harus tau apa yang aku rasakan saat ini.

##

selama beberapa bulan aku disini aku dapat menjadi seorang gadis yang penuh dengan senyum. menjadi seorang gadis yang juga populer d sekolah kami.
kami sudah saling mengenal layaknya seperti keluarga, bahkan keluarga kami sendiri pun sudah saling mengenal.

berkat Jutin dan yang lainnya, aku dapat mengurangi rasa menyesalku karena sudah meninggalkan negaraku dan tinggal bersama sahabat baru dengan latar negara baru.

selama ini juga, aku merasakan sesuatu yang janggal yang kini mengisi hatiku. Ini seperti perasaan yang datang saat aku mengenal si nomer enam, Skandar Keynes. perasaan ini datang setelah lama aku terjatuh dari pahitnya kisah cintaku. perasaan ini datang saat aku bertekat untuk tetap membuat si nomer enam tetap menjadi yang nomer satu di hatiku. Perasaan ini sungguh sudah lama tidak aku rasakan,

Cinta memang rumit adanya..
tapi kenapa harus datang secara tiba-tiba dan tanpa mengenal waktu.
Tapi apa memang benar ini adalah CINTA??
Dan apakah ini semua layak aku menyebutnya CINTA??

Aku rasa memang inilah perasaanku yang sebenarnya,
Jauh didalam lubuk hatiku, aku memang menyukai seorang Justin Drew Bieber. seornag Justin drew Bieber yang sudah menyukai seorang gadis berparas cantik dan terkesan anggun, Caitlin Beadles.
Aku memang odoh, tanpa berpikir lebih panjang, aku mengatakan pada diriku bahkan aku yakin bahwa aku menyukainya.

Tapi memang inilah cina.
mudah datang dan mudah pergi.
dan tak mengenal waktu dan keadaan yang ada di sekeliling.

berbanding terbalik dengan apa yang di alami Chaz dan Kristen.
Mereka dapat saling mencintai tanpa ada penghalang, bahkan kini mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih.
Perasaan itu mereka memang hebat. Bahkan aku sangat iri dengan apa yang mereka terima dan jalani.
Aku merasa ini semua tidak adil.
Tapi bila ku katakan ini semua tidak adil maka mereka akan dengan yakin mengatakan bahwa ini semua sangatlah adil.
karena apa yang mereka rasakan adalah seiris indahnya cinta.




hari ini kami di undang oleh keluarga Bieber untuk sama-sama pergi ke pantai. Mommy tentu memperbolehkan aku pergi, karena aunty Pattie atau Mom pattie sudah sangat mengenal ibuku.
Mom Pattie adalah wanita yang sangat baik, bahkan dia sudah ku anggap sebagai Ibu keduaku.

Aku sedang duduk bersantai, menghadap ke arah depan dengan tatapan datar sambil sesekali menggigit bibirku. Ini sudah mau memasuki musim gugur, cuaca sudah mulai berubah menjadi agak dingin.

"Lexi, kenapa diam saja? kami mengajakmu untuk bersenang-senang bukan?", Mom Pattie selalu memeperhatikan aku dan yang lain seperti saat ini. Mom pasti akan tau yang sedang kami rasakan bagaimana, walaupun sesekali dia akan pura-pura tidak tau.
"Ahh tidak apa Mom, aku hanya sedang ingin sendiri"
"ada yang kau pikirkan?"
aku hanya mengangguk tanda setuju.
"memikirkan apa?"
"nothing special Mom", kataku sambilmtersenyum
sejujurnya sedari tadi aku menatap lurus ke depan, melihat betapa indahnya cinta yang tidak memiliki penghalang. Menatap indahnya tawa mesra yang Justin dan Caitlin keluarkan. Aku cemburu?? tidak, tapi ku rasa Iya.
"yakin?"
aku mengangguk lagi
"percayakan seseorag untuk mendengar cerita mu itu, tidak baik juka harus dipikirkan sendiri. Akan ada sebuah sakit yang mendalam bila itu terjadi"
Mom pergi setelah mengatakn itu.

Aku sendiri lagi sambil menatap ke depan lagi sambil sesekali pura-pura menutup mataku bila Caitlin atau Justin sadar kalau aku meperhatikan mereka. Aku sudah seperti mata-mata di film-film Action saja.


bagaikan terhempas kedalam gulungan ombak, dan terdampar disebuah pulau tak berpenghuni dan gelap. itulah yang aku rasakan. karena saat ini aku  mulai berpikir untuk yang kesekian kalinya, bahwa Cinta itu tidak adil.



Aku bosan mengamati kemesraan mereka.
aku merogoh tas ku da mendapati ponselku. ku buka phonelock nya, dan ternyata 15 missed calls yang semuanya dari Nando. dan tak lama ponselku kembali berbunyi.

**

Aku langsung tancap gas.
aku tidcak berpamitan dulu.
Ini sangat penting bagiku, dan ini memang sangat penting.

Nando bilang Mom jatuh pingsan setelah hidungnya mengeluarkan darah segar. Dan untungnya dokter sudah ada di rumah.

to be continued ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar