Cast
Justin Bieber : Justin Drew Bieber
Jennifer B Tomlinson : Me
The Boys : One Direction
Harry Shum Jr “Bones” : Harry Shum Jr
Camille Parker : Alyson Stoner
Ariana Grande : Ariana Grande
“Louis akan ku buktikan aku bisa menjadi salah satu dari seratus calon mahasiswa baru. Jadi jangan halangi aku untuk ikut audisi di Universitas-mu”, lagi-lagi aku harus berdebat dengan si menyebalkan ini.
“Memangnya kau mampu? Kau tidak akan mampu menyaingi anak-anak lain, lihat saja kemampuanmu”, cibir Louis mengejek.
“Kau ini menyebalkan. Sekarang diam dan antar aku ke LAPA.”
“Baik kalau begitu, kau berhutang sesuatu padaku bila kau tidak di terima”
“Ya dan kau berhutang sesuatu padaku bila aku diterima”
Dengan sedikit mengumpat aku mengambil tasku lalu berjalan cepat menuju mobil kakakku, Louis Tomlinson. Kakakku Louis hanya berbeda tiga tahun denganku, tapi tingkahnya itu menyebalkan. Dia selalu mengejekku bila ku bilang, aku ingin masuk LAPA. Dia memang sangat menyebalkan. Seharusnya Louis berada di tingkat tiga, tapi karena ia pernah cuti selama setahun jadi dia baru menjadi mahasiswa tingkat dua. Memang ku akui dia sangat hebat dalam bidang musik, tarik suara ataupun tari, maka dari itu aku ingin menjadi seperti dia. Dari semenjak aku masih kecil aku memang tidak pernah bisa jauh darinya, tapi mau bagaimana lagi kakak dan adik memang selalu bertengkarkan?
“Baiklah Nona Jean kita sudah sampai, turunlah atau aku akan membawamu kembali pulang.”
Aku hanya mendengus kesal lalu turun dari mobilnya.
“Bersiap untuk Hutangmu!!” Aku mendengarnya berteriak.
Keadaan sangat ramai, banyak remaja-remaja seusiaku yang akan mengikuti audisi itu. Bendera lambang LAPA berkibar di kira dan kanan. Dan sekarang aku harus memberanikan diri masuk untuk daftar ulang terlebih dahulu. Bangunan luar dari LAPA memang terkesan tua, tapi percayalah desaign arsitekturnya sangat luar biasa. Tidak ada kesan kuno sama sekali. Di tengah-tengah lobi terlihat patung lambang Lapa besar yang di bawahnya bertuliskan “London Academy of Performing Arts”. Aku terpaku melihat patung ini sampai seseorang menabrakku hingga aku terjatuh.
“Sorry, aku tidak sengaja. Kau tidak apa-apa?”, aku merapikan baju dan rambutku.
“Tidak apa---”, kata-kataku terhenti saat yang kulihat ternyata salah satu dari The Boys.
The Boys adalah panggilan untuk group Louis. Sebenarnya mereka adalah personil One Direction, mereka sudah mendunia.
“Hei kau Jennifer Barbie Tomlinson kan?”
“Kau ini aneh, kita tinggal satu atap Harry.” Semenjak mereka terkenal, kesibukan mereka meningkat. Maka dari itu mereka menginap di rumah yang orang tuaku berikan. Tujuannya supaya mereka tetap kompak dan selalu bersama. Konyol dan sedikit cengeng. Rumah yang Mom and Dad berikan cukup besar untuk menampung mereka. Orang tuaku sedang berada di Paris, mereka terlalu sibuk untuk mengurus aku dan Louis. Maka dari itu aku setuju saja saat mereka akan tinggal bersama aku dan Lou.
“Aku hanya memastikan”, katanya terkekeh sambil mengacak-acak rambutku.
Aku merapikan rambutku kembali, ini hari audisiku aku harus memberikan kesan yang baik untuk dosen-dosen disini.
“Kau ikut audisi disini?”
“Ya seperti yang kau lihat”
“Kenapa Louis tidak cerita. Ah tidak penting, yang terpenting sekarang adalah kau harus secepatnya daftar ulang. Ayo biar ku tunjukan ruangannya.”
“Baiklah, tapi jangan menyebut namaku secara lengkap seperti tadi. Aku benci nama tengahku.”
Aku menyerahkan sekeping CD, formulir pendaftaran dan berkas-berkas lain yang di perlukan. Setelah itu nomer pesertaku diberikan. Aku menempelkannya di dadaku seperti yang panitia minta.
Sambil menunggu di panggil, aku duduk sambil mengingat ulang gerakan-gerakan yang harus aku lakukan di dalam nanti. Kami duduk secara berurutan. Aku mendapatkan nomor urut 666, dan karena ini gelombang keenam jadi aku tidak harus menunggu lama. Aku hanya harus menunggu 20 orang lainnya selesai. Ponselku bergetar.
Form: Louis
Kau mendapatkan nomer urut 666? Kau pasti akan sial hari ini adikku sayang.
Ingat kau berhutang sesuatu padaku.
Tapi semoga berhasil.
Xoxo
Aku membalas pesannya dengan mendengus kesal.
To: Louis
666? Sial? Bodoh! kuno sekali pikiranmu Lou.
Thanks, xoxo
“Hei bisa ku tebak kau adik dari Louis Tomlinson”, seseorang di sebelahku ini pintar menebak atau memang The Boys sudah mendunia?
“Ya kau benar, dari mana kau tau?”
“Aku salah satu dari fans-nya, tentu saja aku tau. Namaku Camille Parker, kau Jennifer Barbie Tomlinson kan?”
“Oh kau fansnya. Ya kau benar, dan jangan kau panggil lagi namaku secara lengkap seperti tadi, aku benci nama tengahku.”
“Sorry”, katanya pelan sambil menunjukan deretan giginya yang rapi.
Aku harus bertemu satu orang lagi yang menyukai The Boys. Dan aku harap ini tidak buruk seperti saat aku highschool dulu. Aku harus di larikan ke Rumah Sakit karena terbentur pembatas jalan. Itu semua karena ‘mereka’ melihat Louis menjemputku. Itu kejadian paling menyebalkan selama 17 tahun aku hidup.
Louis Tomlinson Point of View
“Lou aku tadi bertemu dengan adikmu, dan kenapa kau tidak cerita pada kami bahwa adikmu akan ikut audisi di universitas yang sama dengan kita?”
“Benarkah?” sambung Zayn dengan antusias.
“Aku lupa”, kataku singkat sambil memasang muka datar.
Sebenarnya dari tadi aku ingin cepat-cepat pulang, aku ingin tau hasil audisi Jean. Walaupun aku menentangnya dengan keras, tapi jauh di dalam lubuk hatiku aku sangat berharap dia bisa masuk. Ya supaya aku bisa menjaganya.
“Hei pak tua jangan ngebut, kau mau membuat aku mati?!” Harry berteriak seperti orang gila. Dia memang aneh.
“Siapa yang minta kau ikut dengan mobilku?”
“Ada apa Lou?” tanya Zayn dengan wajah santainya.
“Aku ingin cepat-cepat tau hasil audisi Jean”
“Kalau begitu pasang sabuk pengamanmu Harry kita akan tancap gas”, teriak Zayn histeris.
Sesampai rumah aku langsung lari ke dalam rumah sambil bersiul-siul. Aku tidak ingin terlihat bahwa aku menghawatirkan si nona manja itu. Nanti dia malah besar kepala kalau aku manjakan. Baru saja aku masuk ke ruang TV, aku melihat seseorang duduk di depan TV. Itu pasti si Barbie.
“Hei Barbie manis, bagaimana hasil audisi mu. Aku yakin---.”
Kalimatku terputus saat melihat adikku sibuk mengelap airmata nya. Kalau sudah begini aku benar-benar sangat bingung. Dari semenjak aku masih kecil, aku tidak pernah bisa melihatnya menangis.
“Kau gagal? Benarkan dugaanku. Sudahlah masih banyak univer---.”
Lagi-lagi kalimatku terpotong. Aku berhenti saat melihat Jean tertawa dengan puas. Dia pasti habis mengerjaiku.
“Hei siapa yang bilang aku gagal? Lihat Lou, aku lulus audisi. Dan mulai minggu depan aku bisa kuliah di tempatmu. Aku akan menjadi hebat seperti dirimu, dan jangan lupa dengan hutangmu”
“Baiklah, baiklah kali ini kau menang. Selamat Barbie, kau memang hebat.”
“Jadi hari ini kau harus menerima ke kalahanmu. Sebaiknya aku harus berpikir tentang permintaanku”, setelah mengatakannya Jean berjalan ke kamarnya.
“Lou, jadi bagaimana? Apa dia berhasil?”
“Ya tentu saja berhasil, adikku itu memang menuruni bakatku.”
“Terlalu percaya dirimu itu membuatmu sedikit gila pak tua”
“Kau harus mengakui itu Harry”
***
Jennifer Barbie Tomlinson Point Of View
“Kau sudah siapkan?”
“Bahkan tidak pernah sesiap ini Lou”
Tidak terasa hari yang ku tunggu-tunggu datang juga. Hari ini adalah hari pertamaku kuliah di London Academy of Performing Arts. Sekolah seni dengan kualitas nomor satu di London. Bahkan sudah banyak artis yang berasal dari lulusan LAPA. Hari ini mata kuliah pertamaku adalah vocal. Aku memilih tempat duduk di dekat jendela, bisa kulihat dari jendela mahasiswa mahasiswi yang berlalu lalang di koridor. Bel berbunyi...
“Baik selamat pagi, saya adalah dosen vocal kalian. Nama saya Avan Gibson. Semoga kalian suka dengan cara saya mengajar.”
Mr.Gibson memperkenalkan diri dengan singkat dan bahkan di awal pertemuan kami, dia langsung memulai pelajaran mata kuliahnya. Ku kira hari ini hanya perkenalan saja.
“Menyanyi itu adalah bahasa. Kenapa? Karena dari menyanyi kita bisa mengetahui bahasa negara lain. Seperti misalnya gomawo untuk bahasa korea atau thank you untuk bahasa inggirs. Memang awalnya kita akan bingung dengan apa yang mereka senandungkan, tapi keingintahuan kita itu lah yang membuat kita mencari liriknya dan bahkan mencari arti kata atau kalimat tersebut....”
“Hei namaku Ariana, kau Jenifer Tomlinson?”, bisik seseorang di sebelahku.
“Ya kau benar. Dan kau orang pertama yang tidak menyebutkan nama tengah. Well aku senang.”
“Miss Tomlinson bagaimana menurutmu tentang menyanyi menurutmu?”
“Menurutku menyanyi adalah perasaan kita.”
“Ya benar sekali. Menyanyi bisa mengisahkan apa yang ada di dalam hati...”
“Hampir saja aku tidak bisa menjawab. Ariana aku harap kita bisa mengobrol lain waktu”, kataku halus. Sedangkan Ariana hanya tersenyum.
“Baik dua jam sudah berlalu, jangan lupa dengan tugas kalian minggu depan. Kalian harus menyanyikan sebuah lagu. Selamat siang.”
Akhirnya waktu cepat berlalu. Semakin lama aku bosan juga dengan bahasan mr. Gibson. Aku cepat-cepat keluar kelas untuk ke cafetaria. Demi venus perutku sekarang sudah mulai memberontak. Tadi pagi aku memang lupa untuk sarapan.
To Be Continue...
