it's all about me !!

Foto saya
This is an Imaginary world . love doesn't require me to be perfect, but it does require me to forgive. visit www.echisechis.tumblr.com

Senin, 28 Januari 2013

Style that must be a try :)

 Simple but You must try to brave wear boots
 Cutest style :)
 Simple but it's perfect <3
Cute?



Taylor's style simple and thats make i liked her style

Kamis, 26 Juli 2012

London Academy of Performing Arts.. (part 1)

                                      Cast

Justin Bieber                      :  Justin Drew Bieber
Jennifer B Tomlinson         :  Me
The Boys                            : One Direction
Harry Shum Jr  “Bones”     : Harry Shum Jr
Camille Parker                   : Alyson Stoner
Ariana Grande                   : Ariana Grande



                “Louis akan ku buktikan aku bisa menjadi salah satu dari seratus calon mahasiswa baru. Jadi jangan halangi aku untuk ikut audisi di Universitas-mu”, lagi-lagi aku harus berdebat dengan si menyebalkan ini.
     “Memangnya kau mampu? Kau tidak akan mampu menyaingi anak-anak lain, lihat saja kemampuanmu”, cibir Louis mengejek.
     “Kau ini menyebalkan. Sekarang diam dan antar aku ke LAPA.”
     “Baik kalau begitu, kau berhutang sesuatu padaku bila kau tidak di terima”
     “Ya dan kau berhutang sesuatu padaku bila aku diterima”
     Dengan sedikit mengumpat aku mengambil tasku lalu berjalan cepat menuju mobil kakakku, Louis Tomlinson. Kakakku Louis hanya berbeda tiga tahun denganku, tapi tingkahnya itu menyebalkan. Dia selalu mengejekku bila ku bilang, aku ingin masuk LAPA. Dia memang sangat menyebalkan. Seharusnya Louis berada di tingkat tiga, tapi karena ia pernah cuti selama setahun jadi dia baru menjadi mahasiswa tingkat dua. Memang ku akui dia sangat hebat dalam bidang musik, tarik suara ataupun tari, maka dari itu aku ingin menjadi seperti dia. Dari semenjak aku masih kecil aku memang tidak pernah bisa jauh darinya, tapi mau bagaimana lagi kakak dan adik memang selalu bertengkarkan?


“Baiklah Nona Jean kita sudah sampai, turunlah atau aku akan membawamu kembali pulang.”
Aku hanya mendengus kesal lalu turun dari mobilnya.
“Bersiap untuk Hutangmu!!” Aku mendengarnya berteriak.
Keadaan sangat ramai, banyak remaja-remaja seusiaku yang akan mengikuti audisi itu. Bendera lambang LAPA berkibar di kira dan kanan. Dan sekarang aku harus memberanikan diri masuk untuk daftar ulang terlebih dahulu. Bangunan luar dari LAPA memang terkesan tua, tapi percayalah desaign arsitekturnya sangat luar biasa. Tidak ada kesan kuno sama sekali. Di tengah-tengah lobi terlihat patung lambang Lapa besar yang di bawahnya bertuliskan “London Academy of Performing Arts”. Aku terpaku melihat patung ini sampai seseorang menabrakku hingga aku terjatuh.
Sorry, aku tidak sengaja. Kau tidak apa-apa?”, aku merapikan baju dan rambutku.
“Tidak apa---”, kata-kataku terhenti saat yang kulihat ternyata salah satu dari The Boys.
The Boys adalah panggilan untuk group Louis. Sebenarnya mereka adalah personil One Direction, mereka sudah mendunia.
“Hei kau Jennifer Barbie Tomlinson kan?”
“Kau ini aneh, kita tinggal satu atap Harry.” Semenjak mereka terkenal, kesibukan mereka meningkat. Maka dari itu mereka menginap di rumah yang orang tuaku berikan. Tujuannya supaya mereka tetap kompak dan selalu bersama. Konyol dan sedikit cengeng. Rumah yang Mom and Dad berikan cukup besar untuk menampung mereka. Orang tuaku sedang berada di Paris, mereka terlalu sibuk untuk mengurus aku dan Louis. Maka dari itu aku setuju saja saat mereka akan tinggal bersama aku dan Lou.
“Aku hanya memastikan”, katanya terkekeh sambil mengacak-acak rambutku.
Aku merapikan rambutku kembali, ini hari audisiku aku harus memberikan kesan yang baik untuk dosen-dosen disini.
“Kau ikut audisi disini?”
“Ya seperti yang kau lihat”
“Kenapa Louis tidak cerita. Ah tidak penting, yang terpenting sekarang adalah kau harus secepatnya daftar ulang. Ayo biar ku tunjukan ruangannya.”
“Baiklah, tapi jangan menyebut namaku secara lengkap seperti tadi. Aku benci nama tengahku.”





Aku menyerahkan sekeping CD, formulir pendaftaran dan berkas-berkas lain yang di perlukan. Setelah itu nomer pesertaku diberikan. Aku menempelkannya di dadaku seperti yang panitia minta.
Sambil menunggu di panggil, aku duduk sambil mengingat ulang gerakan-gerakan yang harus aku lakukan di dalam nanti. Kami duduk secara berurutan. Aku mendapatkan nomor urut 666, dan karena ini gelombang keenam jadi aku tidak harus menunggu lama. Aku hanya harus menunggu 20 orang lainnya selesai. Ponselku bergetar.

Form: Louis
Kau mendapatkan nomer urut 666? Kau pasti akan sial hari ini adikku sayang.
Ingat kau berhutang sesuatu padaku.
Tapi semoga berhasil.
Xoxo

Aku membalas pesannya dengan mendengus kesal.

To: Louis
666? Sial? Bodoh! kuno sekali pikiranmu Lou.
Thanks, xoxo

“Hei bisa ku tebak kau adik dari Louis Tomlinson”, seseorang di sebelahku ini pintar menebak atau memang The Boys sudah mendunia?
“Ya kau benar, dari mana kau tau?”
“Aku salah satu dari fans-nya, tentu saja aku tau. Namaku Camille Parker, kau Jennifer Barbie Tomlinson kan?”
“Oh kau fansnya. Ya kau benar, dan jangan kau panggil lagi namaku secara lengkap seperti tadi, aku benci nama tengahku.”
Sorry”, katanya pelan sambil menunjukan deretan giginya yang rapi.
Aku harus bertemu satu orang lagi yang menyukai The Boys. Dan aku harap ini tidak buruk seperti saat aku highschool dulu. Aku harus di larikan ke Rumah Sakit karena terbentur pembatas jalan. Itu semua karena ‘mereka’ melihat Louis menjemputku. Itu kejadian paling menyebalkan selama 17 tahun aku hidup.





Louis Tomlinson Point of View

“Lou aku tadi bertemu dengan adikmu, dan kenapa kau tidak cerita pada kami bahwa adikmu akan ikut audisi di universitas yang sama dengan kita?”
“Benarkah?” sambung Zayn dengan antusias.
“Aku lupa”, kataku singkat sambil memasang muka datar.
Sebenarnya dari tadi aku ingin cepat-cepat pulang, aku ingin tau hasil audisi Jean. Walaupun aku menentangnya dengan keras, tapi jauh di dalam lubuk hatiku aku sangat berharap dia bisa masuk. Ya supaya aku bisa menjaganya.
“Hei pak tua jangan ngebut, kau mau membuat aku mati?!” Harry berteriak seperti orang gila. Dia memang aneh.
“Siapa yang minta kau ikut dengan mobilku?”
“Ada apa Lou?” tanya Zayn dengan wajah santainya.
“Aku ingin cepat-cepat tau hasil audisi Jean”
“Kalau begitu pasang sabuk pengamanmu Harry kita akan tancap gas”, teriak Zayn histeris.




Sesampai rumah aku langsung lari ke dalam rumah sambil bersiul-siul. Aku tidak ingin terlihat bahwa aku menghawatirkan si nona manja itu. Nanti dia malah besar kepala kalau aku manjakan. Baru saja aku masuk ke ruang TV, aku melihat seseorang duduk di depan TV. Itu pasti si Barbie.
“Hei Barbie manis, bagaimana hasil audisi mu. Aku yakin---.”
Kalimatku terputus saat melihat adikku sibuk mengelap airmata nya. Kalau sudah begini aku benar-benar sangat bingung. Dari semenjak aku masih kecil, aku tidak pernah bisa melihatnya menangis.
“Kau gagal? Benarkan dugaanku. Sudahlah masih banyak univer---.”
Lagi-lagi kalimatku terpotong. Aku berhenti saat melihat Jean tertawa dengan puas. Dia pasti habis mengerjaiku.
“Hei siapa yang bilang aku gagal? Lihat Lou, aku lulus audisi. Dan mulai minggu depan aku bisa kuliah di tempatmu. Aku akan menjadi hebat seperti dirimu, dan jangan lupa dengan hutangmu”
“Baiklah, baiklah kali ini kau menang. Selamat Barbie, kau memang hebat.”
“Jadi hari ini kau harus menerima ke kalahanmu. Sebaiknya aku harus berpikir tentang permintaanku”, setelah mengatakannya Jean berjalan ke kamarnya.

“Lou, jadi bagaimana? Apa dia berhasil?”
“Ya tentu saja berhasil, adikku itu memang menuruni bakatku.”
“Terlalu percaya dirimu itu membuatmu sedikit gila pak tua”
“Kau harus mengakui itu Harry”

***

Jennifer Barbie Tomlinson Point Of View


“Kau sudah siapkan?”
“Bahkan tidak pernah sesiap ini Lou”
Tidak terasa hari yang ku tunggu-tunggu datang juga. Hari ini adalah hari pertamaku kuliah di London Academy of Performing Arts. Sekolah seni dengan kualitas nomor satu di London. Bahkan sudah banyak artis yang berasal dari lulusan LAPA. Hari ini mata kuliah pertamaku adalah vocal. Aku memilih tempat duduk di dekat jendela, bisa kulihat dari jendela mahasiswa mahasiswi yang berlalu lalang di koridor. Bel berbunyi...
“Baik selamat pagi, saya adalah dosen vocal kalian. Nama saya Avan Gibson. Semoga kalian suka dengan  cara saya mengajar.”
Mr.Gibson memperkenalkan diri dengan singkat dan bahkan di awal pertemuan kami, dia langsung memulai pelajaran mata kuliahnya. Ku kira hari ini hanya perkenalan saja.
“Menyanyi itu adalah bahasa. Kenapa? Karena dari menyanyi kita bisa mengetahui bahasa negara lain. Seperti misalnya gomawo untuk bahasa korea atau thank you untuk bahasa inggirs. Memang awalnya kita akan bingung dengan apa yang mereka senandungkan, tapi keingintahuan kita itu lah yang membuat kita mencari liriknya dan bahkan mencari arti kata atau kalimat tersebut....”
“Hei namaku Ariana, kau Jenifer Tomlinson?”, bisik seseorang di sebelahku.
“Ya kau benar. Dan kau orang pertama yang tidak menyebutkan nama tengah. Well aku senang.”
“Miss Tomlinson bagaimana menurutmu tentang menyanyi menurutmu?”
“Menurutku menyanyi adalah perasaan kita.”
“Ya benar sekali. Menyanyi bisa mengisahkan apa yang ada di dalam hati...”
“Hampir saja aku tidak bisa menjawab. Ariana aku harap kita bisa mengobrol lain waktu”, kataku halus. Sedangkan Ariana hanya tersenyum.


“Baik dua jam sudah berlalu, jangan lupa dengan tugas kalian minggu depan. Kalian harus menyanyikan sebuah lagu. Selamat siang.”
Akhirnya waktu cepat berlalu. Semakin lama aku bosan juga dengan bahasan mr. Gibson. Aku cepat-cepat keluar kelas untuk ke cafetaria. Demi venus perutku sekarang sudah mulai memberontak. Tadi pagi aku memang lupa untuk sarapan.


To Be Continue...

Rabu, 18 Juli 2012

Love is not always have each other..

               "Apa kau mencintai ku Cell?"
               "Tentu saja, kau ini bodoh ya? Buat apa kita berhubungan kalau tidak ada rasa cinta dalam hatiku"
               "Apa kau serius?"
               Pria bermata biru itu duduk di samping kekasihnya, "Kau ragu padaku?"
               "Tidak. Tentu saja tidak. aku percaya padamu setulus hatiku"

              
***



               Aku menghela napasku panjang dengan pelan. Cuaca di New York sedang tidak baik. Musim salju turun dengan cuaca yang sangat dingin. Tapi aku berharap cuaca yang dingin ini tidak mengganggu suasana hatiku yang hangat. Ya suasana hatiku hangat berkat pria yang mengisi hatiku kini. Nama nya adalah Cello. Pria dengan mata berwarna biru dengan rambut berwarna cokelat gelap. Dia berhasil meluluhkan hatiku. Kini namanya sudah trepahat dengan jelas dihatiku.

               "Lexi kemari sebentar, Mom and Dad mau bicara.", Mom memanggilku saat aku baru saja sampai dirumah.
               "Kau tau perusahaan kita akan hancurkan?", Daddy memulai pembicaraannya.
               Aku hanya mengangguk cepat. Sungguh aku tidak tau kemana arah pembicaraannya, tapi ku harap ini bukan rencana mereka untuk mengajak ku pindah lagi. Ini sudah ketiga kalinya pindah rumah, ini karena pekerjaan Daddy sebagai pengusaha. Aku berpikir aku ini seperti makhluk nomaden.
               "Begini, besok Dad harap kau tidak akan kemana-mana. Ada pertemuan yang harus kau hadiri. Ini demi masa depan perusahaan kita."
               "Maksud Dad apa? Kemana sebenarnya arah pembicaraan kita? Dan siapa yang harus aku temui?"
               "Besok juga kau akan tau. Sekarang cepat ganti baju dan setelah itu makan."
               Aku mengernyitkan dahiku, biarkan saja lah paling hanya relasi Dad.



***


               Ini adalah acara makan malam yang paling membosankan, aku dilarang Mom and Dad untuk beranjak dari ruang tamu. Itu semua karena anak laki-laki keluarga teman Dad yang bernama Kevin belum datang juga. Kalau dia temanku dan kalau saja tidak ada orang tuanya, mungkin saat dia datang akan ku pukul wajahnya. Setelah setengah jam menunggu Kevin akhirnya dia datang juga. Dengan balutan kemeja berwarna marun, kulit putihnya terlihat sangat jelas.

               "Lexi kenalkan ini anak om, namanya Kevin.", setelah dikenalkan kami berdua maksudku aku dan si menyebalkan ini saling berjabat tangan.
               "Oh jadi ini calon suami putri saya"
               Mataku langsung saja membulat, tubuhku kaku dan dengan seksama otakku bekerja untuk mencerna kata-kata Daddy barusan. Dan yang lebih menyebalkannya lagi, pria bernama Kevin itu hanya duduk diam dengan santai dan tanpa mengeluarkan bantahan sekalipun. Bisa ku tebak dia adalah anak yang sangat menuruti kata-kata orang tuanya.
               "Daddy apa-apaan sih ini? ini sangat konyol.", aku mengeluarkan bantahan dengan wajah yang tidak enak di pandang.
               "Maaf saya dan Lexi harus ke dalam sebentar.", Mom memberi isyarat untuk aku mengikutinya ke dalam.




               "Jelaskan", kataku sinis dengan menekan setiap ejaan yang keluar dari mulutku.
               "Perusahaan akan bangkrut, jadi untuk menyelamatkan perusahaan inilah yang harus dilakukan."
               "Mom tapi ini gila, bagaimana dengan Celloi? Aku mencintainya Mom!!"
               "Lupakan dia", ucap Mom santai lalu kembali ke ruang tamu.



***


               "Kau merindukanku? Aku sangat merindukanmu"
               "Aku di jodohkan Cell"
               Seketika taman kota New York yang biasa aku datangi bersama Cello berubah menjadi sunyi. Hanya terdengar suara lalu lalang kendaraan. Selama dua minggu aku dikurung di rumahku. Ini saja aku lari dari rumah, padahal pernikahanku dengan seseorang bernama Kevin itu akan dilakukan pukul 8 malam nanti.
               "Kau bercandakan? Ini sama sekalai tidak lucu.", bantah Cello sinis.
               Aku mengeluarkan sebuah undangan pernikahan yang ku bawa khusus untuk kekasihku yang sebentar lagi akan menjadi mantan kekasihku. Aku mejulurkan tanganku dan memberikannya undangan itu.
               Terlihat sangat jelas mata Cello membulat dan tak berkedip sedikitpun saat membacanya.
               Ku sentuh tangannya dengan perlahan, lalu ku genggam. "Apa yang harus aku lakukan Cell? Ini membuatku gila, kau tau kan aku sudah memiliki kamu."
               "Baru saja kita melewati hari ini bersama setelah dua minggu kau menghilang. Tapi kau membawaku kabar buruk. Sangat buruk."
               Ya beberapa waktu yang lalu kami menghabiskan waktu berdua. Kami photobox, kami makan ice cream berdua, main sepeda di taman kota. Tapi ini yang harus aku sampaikan sebelum semua terlambat dan Cello membenciku.
               "Aku lemah Cell, ini semua di luar pemikiranku. Dan aku yakin aku sedang menjadi buronan, karena lari dari rumah."
               "Kau yakin kau sangat mencintaiku?", aku mengangguk dengan jelas.
               "Kau mencintai orang tua mu?", lagi-lagi aku mengangguk lemah
               "Kalau begitu turuti mereka Lex. Bagaimana-pun mereka adalah orang terpenting dalam hidupmu. Aku mencintaimu Lex, sangat mencintaimu. Pergilah bersama pria itu, tapi jangan pergi dari hidupku. Aku bisa menunggumu Lex."

               Tangisku kini pecah, aku tidak peduli semua mata memandang ke arahku yang aku pikirkan hanya bagaimana hidupku selanjutnya. Bagaimana aku harus melihat Cello menungguku yang tidak tau waktu. Cello mengelus rambutku lembut.
               "Ikut aku."




               Kini kami berada di sebuah danau, Cello membawaku ke sebuah danau. Di atas sampan kecil yang kami naiki, kami saling terdiam bekutat dengan pikiran masing-masing.


               "Sebentar lagi aku akan menjadi ng lain. Tapi harus kau tau aku tidak akan melupakanmu. Nanti pasti aku akan sendiri menghadapi masa-masa sulitku. Tidak akan ada lagi kamu yang mengangkatku saat aku jatuh. Aku akan menjadi orang lain di dalam keluarga ku nanti, tapi aku akan menjadi aku saat aku bersamamu. Kau bisa melupakanku kalau kau mau, aku tidak ingin melihatmu menunggu yang tak pasti. Aku benci melihatmu terluka."


               Cello menggenggam tanganku, membelai lembut wajahku dan mengahapus air mataku. Dan aku sangat yakin, aku akan merindukan sikap lembutnya.
              
You're not alone
together we stand
i'll be by your side
you know i'll take your hand
when it gets cold
and it feels like the end
theres no place to go you know i wont give in
no i wont give in.

Keep holding on
'cause you know we'll make it through, we'll make it through
just stay strong
cause you know i'm here for you, i'm here for you
theres nothing you can say, nothing you can do
theres no other way when it comes to the truth
so keep holding on
cause you know we'll make it through, we'll make it through.



               Ini lagu yang sering Cello nyanyikan saat aku merasa terjatuh. Sekarang aku yakin aku tidak sendirian. Jika aku terjatuh, masih ada Cello yang akan terus mengangkat dan menerimaku.






***


               "Ingat masih ada aku, jangan menangis oke? Kau sudah janji tadi."
               Pukul 4 tepat aku di antar Cello ke tempat di mana aku harus ada, rumahku. Terlihat banyak orang suruhan Dad yang langsung menyambut dan memintaku masuk ke dalam. Aku masuk sambil membawa rangkaian bunga untuk pernikahanku yang di berikan oleh Cello.

               Cinta itu tidak harus memiliki kan? Tapi ada kalanya cinta tanpa memiliki itu sangat menyakitkan. Tapi ku harap aku akan memperoleh kebahagiaan suatu saat nanti.

Senin, 09 Juli 2012

LOVE...!!!

                Sebuah undangan pernikahan membuat gadis bermata kelabu itu hampir jatuh pingsan. Bagaimana tidak, karena di surat undangan itu tertera nama pria yang ia cintai.Dan pria itu akan bersanding dengan sahabatnya.

“Justin & Selena”

Brittany Veronica Hudson. Gadis dengan rambut blonde panjang bergelombang ini dengan sukses menangis tersedu-sedu. Dia tidak pernah menyangka, pria yang dia cintai  itu akan mengkhianatinya. Bahkan Justin tega menikahi sahabatnya sendiri, Selena. Justin Drew Bieber dan Selena Marie Gomez akan melangsungkan pernikahannya. Mereka akan mengikat dan meresmikan tali cintanya yang sempat di bangun namun kandas begitu saja. Tak pernah terbesit di dalam pikirannya kalau Justin dan Selena akan menikah.

Malam ini seperti biasanya Brittany atau yang akrab dengan panggilan Britt duduk di balkon kamarnya. Memandang langit-langit sambil membayangkan apa yang akan terjadi saat pernikahan Justin dan Selena berlangsung.

“Britt..”, seseorang dari balkon sebelah memanggilnya dengan nada penuh hati-hati.
Saat Britt tau siapa yang memanggilnya dengan sigap Britt terburu-buru untuk masuk kekamarnya. Tapi usahanya sia-sia, oramg yangf memanggilnya lebih dulu mencengkram tangannya dengan erat.
“Britt I’m so sorry. Suatu saat kamu akan mengerti. Suatu saat kamu akan tau alasan aku melakukan ini semua”
“Just tak pernah terbesit di dalam pikiranku. Tak pernah terpikirkan olehku kalau kamu akan sekejam ini.”
“Britt..”, desis Justin pelan.
“Kenapa kamu tega Just? Apa salahku?!”, tanya Britt dengan emosi sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Justin.
“Maafkan aku. Kamu berhak dapetin orang yang lebih baik dari aku. Tapi itu bukan aku Britt.”, beberapa menit berlalu dengan kesunyian yang menyelimuti “Kamu akan selalu ada di hatiku Britt”


***

Hari yang sudah lama di tunggu-tunggu oleh keluarga besar Bieber dan Gomez-pun datang. Brittany sudah siap dengan dress hitam dan heels dan tas tangan yang senada dengan warna bajunya. Make up naturalnya tidak makin membuat wajah mungil Brit semakin cantik. Brittany masuk ke dalam mobil kakaknya, Tracy Will Hudson.
Sepanjang jalan menuju hotel tempat pernikahan Justin dan Selena berlangsung, gadis dengan wajah mungil dan tirus itu terdiam dan sibuk berkutat dengan pikirannya. Masih ada secercah harapan di hati Britt untuk Justin membatalkan pernikahannya.
“Britt kita sudah sampai”, gadis itu baru tersadar bahwa mereka sudah sampai.
“Kau yakin aku bisa?”
Come on, you’re strong. Aku percaya kamu bisa bertahan”, genggaman Tracy semakin erat.
“Iya Trace kau benar. Aku harus bisa bertahan dengan senyum yang akan selalu mengembang di bibirku. Aku masih harus bertahan untukmu, Mommy, Daddy dan bahkan aku akan bertahan untuk Justin dan Selena.”
You can do it, my angel



Dekorasi, nuansa romantis seakan membuat napas gadis cantik itu tercekat.

Everythings cool, yeah
Its all gonna be okay, yeah
And I know maybe I’ll even laugh about
It someday, but no today, no..
Cause I don’t feel so good, I’m tangled
Up indide. My heart is on my sleeve
Tomorrow is a mystery to me

“Menurutku semua akan terus berputar, akan terus melangkah maju. Begitu pula dengan pernikahan ini. Hari ini akan terjadi pernikahan yang tidak pernah terbayangkan olehku. Dan itu saja sudah membuat aku semakin berpikir bahwa hari esok adalah teka-teki baru”, batin gadis ini lemah.

And it might be wonderful
It might be magical
It might be everything
I’ve waited for, a miracle
Oh but even if I fall in love again with someone new
It could never be the way
I loved you..

“Trace aku akan menyimpan perasaan ini. Akan ku kubur ini jauh-jauh dan akan ku jadikan kenangan. Tapi bila aku harus mencintai yang lain, rasa cintaku kepadanya tidak akan berkurang”, bisik Britt pelan.

Letting you go is
Making me feel so cold
And I’ve been trying to
Make believe it doesn’t hhurt
But that makes it worse yeah
See i’m a wreck inside
My tounge is tied
And my whole body feels so weak
The future may be all i really need

“Merelakan dia pergi, membuat duniaku menjadi sepi. Tapi aku akan tetap mecintainta,  sama seperti dia mencintaiku –dulu- “, sahut Britt lagi dengan menekankan setiap kata yang terlontar dari mulutnya.


Britt dan Tracy mengucapkan selamat kepada Selena. Tak lupa mereka memberikan senyum yang paling indah. Terlihat jelas dari mata Selena bahwa ia menyesal.
“Maaf Britt, ini diluar dugaanku dan Justin. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu---.”
Sebelum Selena melanjutkan penjelasnya, Britt sudah terlebih dahulu memotongnya “ Sudahlah. Aku tidak apa-apa. Happy wedding, my bestie
Thank you so much
Dan inilah yang sudah di nantikan oleh gadis lugu yang kini berpelukan dengan Selena. Justin muncul dengan Tuxedo putihnya.
“Justin kau terlihat tampan dengan tuxedo itu”
Justin hanya membalas dengan senyum dan tatapan nanarnya.





Acara berlangsung dengan meriah. Kini Britt terduduk di taman hotel sendiri. Ia meninggalkan Tracy bersama kekasihnya. Britt memandang langit-langit sambil terus membayangkan semua yang telah terjadi kepadanya.

“Aku bisa, aku pasti bisa.”, jerit Britt pelan.
“Hei tidak baik untuk seorang gadis duduk di luar malam-malam seperti ini”, seseorang datang menghampiri dan duduk di sebelah Britt.
“Ah kau Just. Mau apa kau kemari? Acaranya sudah selesai? Aaah sebaiknya aku mengajak Trace pulang. Kenapa dia tidak memanggilku pulang”
Britt beranjak dari duduknya sambil memasang senyum pahitnya.
“Maaf Britt. Maaf.”
“Maaf? Hanya maaf? Untuk apa Just?”
“Britt  ma---.”
Stop Just. Hentikan sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Hoe dare you used my favorite colors as the theme for your wedding?”
Saat Britt baru saja menginjakan kakinya di dalam Ballroom, gadis itu tentu melihat dan sangat menyadari nuansa putih dan ungu. Warna yang Britt sangat sukai.
How dare you used my favorite flowers as your decoration?”
Di dalam Ballroom dimana-mana terlihat bunga mawar putih meghiasi setiap sudut ruangan. Dan itu bunga kesukaan britt.
How dare you to set our anniversarry as your wedding day?”
Beberapa bulan sebelum Justin menlangsungkan pernikahannya, mereka pernah membicarakan atau lebih tepatnya menghayal tentang pernikahan mereka kelak. Dan semua dekorasi dekorasi dan bahkan gaun yang Selena pakai adalah semua yang pernah mereka bicarakan.
And the themesong Just? How dare you use our themesong for the ceremony?”
Lagu tema yang Justin pakai pun, adalah lagu yang mereka berdua sering nyanyikan. Kini tangisnya tak tertahankan.
“Just jawab aku.” Desis gadis itu lemah.
It’s because, because  this is the only way I could pretend that you’re my bride. MY BRIDE”, setiap kata yang keluar dari mulut pria bermata hazel ini terasa sangat berat saat sampai di hatinya.
“Bitt, kamu harus tau aku membuat semuanya sama dengan apa yang kita rencanaka itu karena.. karena aku ingin menganggap mempelaiku adalah kamu.”
Justin menggenggam tangan Britt dengan erat dan lembut. Mata mereka saling bertatap, kepala Britt seakan sakit saat seketika semua yang mereka berdua lakukan-dulu-.
Dengan lembut dan perlahan gadis itu melepaskan tautan tangannya dengan lembut, “Lupakan aku Just. Ku mohon lupakan aku, cintai Selena seperti dulu kamu mencintaiku. Jaga dia dan jangan sakiti dia. Aku yakin kau tidak akan menyesal menikahinya. Sekali lagi selamat menempuh hidup baru”, sebelum Britt meninggalkan Justin, Britt menyempatkan dirinya untuk menepuk pundak Justin.
Dalam hitungan beberapa detik saja Britt sudah tenggelam dalam pelukan Justin bersamaan dengan airmata yang mengalir dari pelupuk mata gadis mungil itu.


***


 Tidak terasa enam tahun berlalu...
“Daddy, daddy sedang membaca apa? Serius sekali”
“Daddy sedang membaca surat dari seseorang yang dulu dad cintai.”
“Apa itu Mom?”
“Bukan sayang. Sini duduk disebelah Dad.”
“Lalu siapa?”
“Namanya Brittany Veronica Hudson.”, senyum Ayah dari anak manis itu mengembang.
“Sama denganku. Aku yakin aunty Britt cantik seperti aku”
“Tentu saja sayang. Hei ini sudah malam, ayo Dad antar ke kamar”
Pria itu menggendong anak gadisnya yangbaru berusia 4 tahun, “Dad sekarang dia dimana?”
“Dia disana bersama Mommy”

Dua tahun setelah menikah, Justin dan Selena mendapatkan seorang putri bernama Brittany Veronica Bieber. Justin dan Selena sengaja memakai nama Britt untuk mengenangnya. Kesehatan Britt menurun setelah hari yang menyakitkan itu. Leukimia yang di deritanya selama dua tahun itu, akhirnya merengut nyawanya. Tapi gadis itu meninggalkan sepucuk surat:

Justin, maafkan aku karena menyembunyikan ini semua darimu. Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya saja aku tidak mau kau cemas. Membayangkan kau akan cemas saja, napasku tercekat. Aku menderita penyakit ini sejak dua tahun yang lalu. kalau saja aku bisa memilih untuk sembuh dari penyakit ini, aku bisa saja membatalkan pernkahan kau dan Selly. Tapi kenyataan berbeda, aku tidak mampu melihatmu menyesal. Tapi aku percaya Tuhan memberikan penyakit ini kepadaku agar aku bisa melakukan yang terbaik di hari-hari terakhirku. Yang aku lakukan kemarin bukan pengorbanan tapi adalah kebahagiaan buatku untuk merelakan kau bersama sahabatku Selly. Aku percaya dia yang terbaik untukmu. Ingat jangan merasa bersalah karena menikahi sahabatku itu. Aku sangaaaaaat yakin kau akan bisa bahagia bersamanya.
Simpan rasa yang pernah ada sebagai kenangan Just.
Cintaku akan selalu untukmu.

Gadismu, Brittany Veronica

Selena? Setelah melahirkan si kecil Brittany, Selena meninggal dunia. Sebelum Selena pergi ia sempat berpesan “Just cari Mommy untuk si kecil Britt.”
Tapi hingga kini, Justin belum menemukan wanita lain. Perjodohan konyol yang orang tua mereka lakukan membuat Justin enggan untuk menikah lagi. Di dalam hatinya hanya ada Britt dan Selly, tidak ada yang lain.







“Pengorbanan itu akan ada selama cinta itu tertanam di hati kita. Sebaiknya pikirkan baik dan buruknya.” –Brittany Veronica Hudson-

“Memilih itu adalah rintangan selama kita masih hidup di bumi ini” –Justin Drew Bieber-

“Seandainya aku bisa memilih? Aku tidak akan jatuh dalam perjodohan ini. Tapi Obey is a Must.”-Selena Marie Gomez-

“Pengorbanan itu bukan ke sia-siaan. Tapi awal dari kebahagiaan yang tertunda” –Author-



-END-

Jumat, 22 Juni 2012

:')

               "Mianhae (maaf), ku harap kau akan mengerti. dan aku yakin suatu saat kau akan mengerti tentang keputusan ini"

seorang yeoja  diam tak berdaya. wajahnya menyiratkan kesedihan yang mendalam. bayangan ketika namja yang dia sayangi pergi begitu saja dengan seuntai kata yang menurut yeoja ini tak berartikan apapun. hidupnya kini seakan hilang, dia bukan Kim He Ra yang dulu. 



             "hai namaku Justin, aku tetangga baru. Ibuku memintaku untuk mengantarkan cake buatannya", seorang pria dengan warna rambut blonde dan mata doklat madunya datang dengan senyum yang sangat ramah.
             "Baiklah, sampaikan pada Ibumu Thanks"
             He Ra tidak mau berlama-lama dengan tetangga barunya, ia tidak ingin berbicara apapun pada siapapun. sedangkan Justin dengan wajah herannya, hanya tersenyum setelah menerima perlakuan yang mungkin kurang sopan.
             He Ra hanya meletakan cake dari tetangga barunya itu di atas meja.
             "Dari siapa sayang?", seseorang menghentikan langkah He Ra.
             "Tetangga baru."
             "Sudah ucapkan terima kasih?"
             "Sudah."
             "Kemari, mom ingin bicara sama kamu"
             He Ra jalan dengan langkah terpaksa dan wajah yang tidak semangat. Padahal dulu, He Ra adalah seorang gadis yang ceria dan ramah pada siapapun.
             "Sampai kapan kau akan terus begini? Terus berlarut dalam kesedihanmu? Hidupmu masih panjang, jangan sia-siakan demi seorang pria yang seperti itu. kau harus kembali menjadi seperti dulu.do what you wanna do honey.", He Ra hanya diam mematung. "choose your own happiness. work hard for it. And you deserve it."
             Tanpa sadar bibir yeoja itu begetar, matanya terasa panas. Tak lama He Ra menangis seperti anak kecil. dengan segera mommy-nya menenggelamkan anak semata wayangnya itu ke dalam pelukannya.






             "Hei kau masih ingat aku?", tanya seorang namja kepada seorang yeoja yang sedang sibuk memandangi bintang. He Ra hanya meliriknya tanpa arti lalu kembali memandang bintang seperti semula. "Sepertinya aku harus memperkenalkan diriku lagi. Baiklah namaku Justin, Justin Gibson." . Dan keadaan -masih-tetap-hening. "Kau ini bisu atau tuli atau bagaimana? maksudku baik. aku hanya ingin mencari teman baru."
             "Aku tidak butuh teman, dan kalau kau mau mencari teman, cari saja orang lain.", jawab He Ra ketus.
             "Galak sekali. Kau ini seperti orang yang ga ada semangat hidup, seperti orang yang di tinggal kekasihnya tanpa kejelasan saja"
             DEG!!! seperti ada ribuan anak panah yang menghujam jantungnya saat tuduhan yang secara tidak langsung benar itu terlontar dengan baik dari mulut seorang namja yang dia baru kenal itu.
             "Kau tidak tau siapa aku, jadi kau tidak berhak mencampuri apapun tentang aku. Kalau aku memang baru saja di tinggal kekasih kau mau apa?!"
             "mwoya (apa katamu)? berarti benar apa yang aku tebak?", kini Justin sedikit menyesal telah mengatakan itu dan Justin pikir -memang- dia sedang menyinggung hati gadis yang berada di sebrang balkon kamarnya.
             He Ra hanya terdiam sambil terus menyesali dengan apa yang baru saja ia katakan.
             "Hei kau gadis patah hati, pria itu bukan cuma satu. kau kan bisa cari yang lain, cari orang yang benar-benar menyayangimu dengan setulus hati."
             "Kau ini mengguruiku? life is not easy", katanya sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.





             Semangat baru? He Ra sudah tidak memiliki salah satu poin terpenting itu dalam hidupnya. He Ra malah selalu hidup dalam masa lalunya yang hilang itu. Di waktu libur kuliah seperti ini He Ra hanya bisa duduk di balkon sambil membayangkan semua kenangan yang kini hilang, hingga akhirnya siang berganti malam.
             "Kau masih saja di situ gadis patah hati?" tidak ada respone pikir Justin. "Kau tau aku punya mimpi ingin mempunyai keluarga yang sempurna. Aku kehilangan daddy saat aku masih duduk di junior high school, daddy meninggal karena kanker tulang yang dia derita. dan kau tau? Aku sempat merasa sepertimu, aku sempat tidak memiliki semangat hidup. tapi bila aku terus seperti itu, bagaimana mommy??" Justin bercerita dengan menekankan setiap kata dengan penuh makna. "Kau baru saja kehilangan kekasih bukan kehilangan salah satu anggota keluarga yang sayangi saja kau sudah sebegitu menderita, apalagi bila kau menjadi aku? Mungkin kamu akan loncat dari balkon ini" Justin terkekeh kecil setelah berbicara.
             Selang beberapa waktu keadaan menjadi hening. keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. He Ra yang terus memikirkan setiap kata dari yang justin bilang, dan Justin memikirkan apa yang sedang di pikirkan He Ra.
             "Kamu hanya perlu menunggu waktu yang tepat gadis patah hati. Gak selamanya hidup itu bakalan sulit. Ada kalanya kehidupan manusia itu berjalan di atas dan PASTI ada saatnya berada di bawah. Kamu harus terus memiliki semangat hidup."
             He Ra menundukan kepalanya. Tapi pundaknya bergetar. Ia sangat tau He Ra sedang menangis. Justin melompat ke balkon He Ra, dan dengan sigap menenggelamkan wajah gadis patah hati itu ke dalam dadanya yang lumayan bidang. gadis itu, gadis patah hati menangis cukup kencang di dalam pelukan Justin.
             "Tidak apa-apa, teruskan saja. keluarkan semuanya. Tapi setelah itu kau harus berjanji jangan menangis lagi karena laki-laki itu. Mengerti?" dapat di rasakan Kim He Ra mengangguk tanda setuju.





             Sebulan berlalu, kedekatan Justin dan He Ra semakin nyata. He Ra menepati janjinya, He Ra tidak lagi pernah menangis karena pria itu. Dan mungkin kini hatinya sedang di penuhi oleh satu nama. He Ra sepertinya menaruh hati kepada Justin. Tapi He Ra masih takut akan kegagalan di masa lalunya. Saat sedang tiduran di dalam kamarnya, ponsel He Ra bergetar.
             
             from: Justin
             Gadis patah hati, kau ada di rumah?
             Ada yang harus aku katakan, cepat ke balkon. Aku menunggumu di ayunan balkonmu.

             Tidak terasa, bibir He Ra memperlihatkan seulas senyuman. Tanpa pikir panjang He Ra langsung memutar knop pintu balkonnya dan langsung menemui Justin yang sedari tadi duduk di ayunan kamarnya. Justin tersenyum dan langsung menepuk tempat di seblahnya yang mengisyaratkannya untuk duduk di sebelahnya. Dengan membalas senyum, He Ra datang.


             "Kok malah diem? kamu mau bilang apa? katanya ada yang mau di bilang?"
             "Mmmmh begini", Justin menggeser duduknya menghadap He Ra dan memandang He Ra lekat-lekat. "Saranghae Kim He Ra". He Ra hanya terkekeh geli mendengar aksen Justin. "Kenapa kau ketawa? Aku sedang serius"
             "Aku hanya lucu mendengar aksenmu. Lanjutkan"
             "Haaaah begitu saja kau tertawa. He Ra, kau tau kan aku bukan namja yang bisa mengarang kata-kata manis. Aku tidak bisa melakukan semuanya. Tapi tentang aku suka kamu, itu benar." "Kau mau jadi kekasihku? Aku akan menunjukan bahwa aku baik, aku bukan seperti masa lalumu."
             "shireo (tidak mau)"
             Jawaban singkat itu membuat Justin tertegun. Tersirat rasa kecewa di mata pria dengan mata madu nya. "Arraseo (aku mengerti)" jawab Justin dengan senyum yang di paksakan.
             "Ani (tidak). Aku hanya bercanda. Aku mau Justin , aku mau jadi kekasihmu. Tapi berhenti memanggilku gadis patah hati, aku sudah tidak patah hati"
             Raut kecewa Justin berganti dengan kekehan kecil dan mata yang memancarkan kegembiraan, "Baiklah aku tidak akan memanggilmu gadis patah hati lagi. Karena sekarang kau kan sudah punya aku, jadi tidak usah patah hati lagi." He Ra hanya terkekeh geli mendengar kata-kata Justin.







             Seminggu berlalu. Pasangan kekasih yang baru menjalin hubungan seminggu ini semakin lama semakin lengket. Mereka berdua seperti tidak bisa di pisahkan. 

             "Kau mau mampir Justin? Aku akan membuatkan kamu teh herbal hangat."
             "Baiklah, ayo masuk. Hujan semakin deras saja."
             Justin dan Kim He Ra berlari sambil saling menggenggam tangan masuk ke dalam rumah. Tapi di ruang tamu rumah He Ra ada seorang wanita paruh baya tengah berbincang dengan mommy-nya.
             


********************************************************************************


             Bisakah aku mengampuni? Bisakah aku menerima semua ini?

             Di genggamnya tangan seorang laki-laki yang terkujur lemah di atas ranjang sebuah rumah sakit. Wajahnya yang dulu segar dan penuh senyum, kini hanya terlihat lesu dan pucat. Tak ada lagi semangat hidup yang menghiasi setiap derap jantung. Mulutnya yang kaku seakan ingin berbicara meminta maaf atas semua yang telah ia lakukan kepada gadis yang sangat ia cintai itu.

             "Yesung terkena kanker Tulang stadium akhir. Kemungkinannya untuk bertahan hidup hanya sedikit. Dia meninggalkanmu bukan karena dia tidak mencintai kamu. Setelah dia meninggalkanmu kesehatannya semakin buruk. Tidak ada lagi semangat hidup dalam dirinya. Dia menyembunyikannya darimu karena dia ingin kamu tidak kecewa, dan dia terus mengatakan padaku bahwa kamu harus bahagia dengan orang yang tepat"

              Kata-kata ibunda dari Yesung, mantan kekasih He Ra terus terngiang di dalam pikiran gadis itu. Airmatanya terasa sulit untuk di hentikan. Yesung tidak bisa apa-apa, tubuhnya seperti hanya di balutkan dengan kulit. Kurus, sangat kurus.
             Tangannya berusaha meraih pipi dari gadis yang pernah ia lukai itu. He Ra menikmati setiap sentuhan di pipinya. Dengan airmata masih membanjiri wajah mungilnya. Dengan bermodalkan secarik kertas dan sebuah pensil, namja itu berusaha untuk menuliskan sesuatu.

             "Mianhae."

             "Jangan bilang seperti itu. Aku masih menyanyangimu Yesung. Jangan tinggalkan aku, berjuanglah untukku. Aku tidak akan meninggalkanmu."

             "He Ra"
             Gadis dengan rambut panjang terurai itu terkejut saat melihat ternyata Justin yang memanggilnya. Sorot mata Justin sendu, sorot matanya mengisyaratkan kesedihan. He Ra tak bisa berkata banyak, lidahnya seakan kelu. He Ra menatap Yesung dan Justin bergantian.

             Tuhan bisakah aku memilih? Sanggupkah aku?

             "Gwaenchana (tidak apa-apa), aku mengerti. Aku pernah merasakan apa yang kau rasakan. Melihat seorang yang kita sayangi tergeletak lemah tanpa berdaya. Bahkan dengan penyakit mengerikan yang sama." Justin berjalan mendekati gadis yang dia sayanginya itu. 
              "Aku tau kamu menyayanginya, aku tau kamu gak akan mau liat dia kaya gini. Tapi aku gak akan biarin kamu pergi."

              ǁ  I will be brave
I will not let anything take away What’s standing in front of me ǁ

"Aku bakalan nunggu kamu Kim He Ra. Aku gak akan biarin kamu pergi gitu aja. Tapi aku bakalan biarin kamu merawat orang yang kamu sayang. Aku ngerti banget perasaan kamu. Tapi jangan takut, aku selalu ada buat kamu. Aku selalu jaga perasaan aku buat kamu. Kapanpun kamu mau datang, hati aku selalu terbuka buat kamu."

ǁ  I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you For a thousand years I love you for a thousand more ǁ


"mianhae Justin and gomawo (terima kasih)"






********************************************************************************

 
             Satu tahun berlalu, keadaan sudah jauh berbeda. Justin meneruskan kuliahnya di Swiss. Sedangkan He Ra tetap di Korea, melanjutkan kuliahnya. Yesung? Yesung meninggal 4 bulan yang lalu. Yesung bilang He Ra tidak boleh belarut dalam kesedihannya yang mendalam. Kini He Ra menjadi He Ra yang biasa, He Ra yang ceria. Setiap ada waktu He Ra selalu datang ke makam Yesung, terkadang dia datang hanya untuk menceritakan apa yang terjadi hari itu. He Ra juga gak lupa mengunjungi rumah tetangga sebelahnya. Rumah Justin. He Ra datang untuk mengunjungi mrs.Gibson.

Hari ini gadis bertubuh mungil itu meluangkan waktunya untuk datang ke makan Yesung. Setelah memberikan hormat dan meletakan bunga, He Ra berjongkok.
"Kau tau Yesung, aku kesepian. mommy sedikit sibuk akhir-akhir ini. Aku jadi tidak punya teman untuk berbicara. Bahkan Justin juga belum kunjung pulang. Kata mrs. Gibson dia pergi ke Swiss untuk melanjutkan kuliah, tapi aku gak tau kapan dia akan kembalik. Aku sedikit merindukannya. Aku harap dia sudah mempunyai yeoja lain dan...."
"Dan apa? Dan setelah menerima undangan pernikahanku kau akan loncat dari balkonmu?"
He Ra membalikan badannya dan mencari-cari asal suaranya. Gadis itu hanya tertegun melihat namja dengan mata madu dan senyum khasnya yang sangat dirindukannya.
"Aku kembali Kim He Ra, Aku selalu jaga perasaan aku buat kamu. Kapanpun kamu mau datang, hati aku selalu terbuka buat kamu. Itu kan yang pernah aku katakan padamu? Jadi jangan pernah berharap kalau aku akan menemukan yeoja yang lebih baik dari kamu."
"Justin?"





 Seperti kata mommy: "choose your own happiness. work hard for it. And you deserve it."
-Kim He Ra-


Hidup itu bukan harus selalu memilih, tapi kadang kala kita harus menunggu.
-Justin Gibson-


Kadang apa yang kita pikirkan baik, tidak selamanya baik di mata orang lain.
-Yesung-


Hidup itu udah cukup susah, sebaiknya jangan di buat tambah susah.
Sedikit bersabar mungkin akan membawa kebaikan dikemudian hari.
-Author-

-END-