berhubung cerpen ini belum selese di buat, jdul juga belum d tentuin :D
heheh yang pasti selamat membaca \m/
***************************************************************************
Cinta tidak menuntut siapapun
untuk menjadi yang terbaik
Tapi
Cinta menuntut siapapun
untuk bisa memberikan yang terbaik
“Menari, bintang, kembang api, natal, salju dan kau menyukai warna ungu”
“Bagaimana kau tahu? Kau ini peramal ya?”
“Kau benar aku peramal, hebat bukan?”
“Kau pasti berbohong.”
“Tentu saja!”
“Kau ini jahat sekali Devon Alvaro”
Gelak tawa mengakhiri perbincangan mereka. Mata hazel Devon terus saja dapat membuat seorang gadis bernama Tara Victoria terpesona. Sudah sejak lama Tara mengagumi sahabat kecilnya itu, tapi Devon mungkin hanya menganggap Tara sebagai sahabatnya saja tidak lebih.
Ini adalah bulan Desember, cuaca sudah mulai dingin dan mungkin besok atau beberapa hari lagi salju akan turun. Tara dan Devon sangat menyukai musim ini, musim salju. Kepulan asap dingin, keluar dari bibir mungil Tara. Pemandangan indah London Bridge terhalang oleh kabut yang mulai menebal. London Bridge adalah jembatan terpanjang di Inggris, dan di bawah jembatan ini terdapat sebuah danau yaitu Danau Havasu.
“Kabut ini mengganggu saja.”, gerutu Tara sambil menggosok-gosok kedua pipinya.
“Bukan London kalo tidak berkabut Tara, kau ini.”
Tara mengerucutkan bibir mungilnya itu, lalu beranjak pergi sambil menghentakan kakinya meninggalkan Devon sendiri.
“Tara kau mau kemana? Tunggu!”, teriak Devon
“Kau mau mati kedinginan disini? Sebaiknya kita pulang bodoh.”
“Aku tidak bodoh.”, gerutu Devon sambil menyamakan kecepatan Tara berjalan.
“Kau itu memang bodoh Devon, buktinya saja kau tidak tahu tentang..”, Tara berhenti dan menutup mulutnya rapat-rapat.
“Tentang apa?”
“Tidak, bukan apa-apa. Devon aku duluan, aku buru-buru.”, Tara berlari mendahului Devon menuju double decker yang sebentar lagi akan berangkat.
“Bodoh sekali kau Tara, hampir saja kau mengatakannya. Kalau sampai dia tahu bagaimana? Kau tidak malu mengatakannya terlebih dahulu? Bagaimana kalau dia tidak menyukaimu? Aku yakin kau akan menangis tujuh haru tujuh malam, atau bahkan lebih!!”
Sedari tadi Tara, berbicara dan memarahi dirinya sendiri di depan cermin. Dia melampiaskan semua kekesalannya karena kebodohannya itu. Sebenarnya Tara adalah orang yang sangat berani mengatakan apa yang dia rasakan, tapi untuk masalah ini nyali Tara tidak berani seperti biasanya.
“Katakan terlebih dahulu? Bisa saja, tapi apa kau tidak akan malu? Walaupun waktunya akan datang, kau tidak akan boleh mengatakannya terlebih dahulu. Biarkan dia tahu seiring berjalannya waktu.”
“KAU INI BODOH!!”, teriaknya diakhiri dengan nafasnya yang memburu.
“Tara kau ini sedang apa? Teriak-teriak seperti orang gila. Bel berbunyi saja kau tidak dengarkan?”
“Kau ini tidak tahu apapun, sebaiknya kau keluar.”, Tara mendengus kesal.
“Baiklah, padahal ada sebuah paket untukmu. Karena kau menyuruh aku untuk keluar, biar ini untukku sa..”
Belum sempat Kevin, kakak Tara melanjutkan kata-katanya Tara sudah merebut paketnya lalu mendorong Kevin keluar kamar.
“Tidak sopan.!”, kata Kevin sebelum ia kembali ke kamarnya.
“Menarilah seperti seharusnya...”
Isi pesan di atas kotak itu.
Kening Tara berkerut, dia heran apa maksud isi pesan ini. Tanpa berpikir panjang lagi, Tara membuka kotak kecil itu. Dan terlihat sebuah miniatur balerina cantik. Mata kelabunya menatap habis balerina itu, gadis ini yakin seseorang yang memberikan balerina ini tahu sekali apa yang Tara sukai.
***
“Kau itu memang bodoh Devon, buktinya saja kau tidak tahu tentang..”
“Apa maksudnya? Ada yang di sembunyikan Tara dariku, tapi apa?”
Devon yang semenjak tadi memikirkan perkataan Tara, hampir dibuat oleh gadis itu karena pesan singkatnya tidak juga di balas.
To: Tara
Ayolah Tara, balas pesanku. Kau membuat aku hampir mati penasaran.
Sekali lagi pria bersuara tenor ini mengirim pesan singkatnya untuk Tara. Sebenarnya Devon hanya ingin tahu apa yang di sembunyikan Tara, karena selama ini Tara tidak pernah menyembunyikan apapun terhadapnya. Devon juga bukan orang yang suka ikut campur dengan urusan orang lain.
Pagi-pagi sekali Devon sudah berangkat lari pagi bersama Kevin, kakaknya Tara.
“Kev, Tara mana?”
“Belum bangun mungkin.”, jawab Kevin singkat sambil mengatur nafasnya.
“Masa? Dia baik-baik saja kan?”
“Kau ini kenapa Dev? Tara tidak apa-apa, jangan khawatirkan dia.”
Devon hanya tersenyum lalu memalingkan wajahnya kembali menatap jalan.
Tidak sampai setengah jalan, Devon sudah minta izin untuk pulang duluan. Devon sengaja memutar arah melewati rumah Tara, dan berharap Tara duduk di tepi jendela kamarnya seperti biasa.
Dan perkiraan Devon benar, Tara ada disitu sambil membaca novel dan mendengarkan musik.
“TARA!!”, teriak Devon.
“TARA!!”
Tara tidak kunjung memalingkan wajahnya. Devon mencari sesuatu untuk dilempar dan ketemu. Tanpa pikir panjang lagi, Devon melemparkan sebuah ranting kecil ke arah Tara. Dan hasilnya Tara jatuh karena terkejut.
“Astaga Tara!”, Devon menepuk keningnya sendiri lalu berlari masuk menuju kamar Tara.
Sesampainya, terlihat seorang gadis terduduk dengan memegang keningnya dan merintih kesakitan.
Devon menghampiri Tara lalu berlutut, “Tara kau tak apa? Maaf aku tak sengaja.”
“Devon kau ini sudah gila? Kau mau membuatku mati? Atau kau mau membuatku amnesia?”
“Salah sendiri, sudah tiga kali ku panggil kau tidak menjawab.”
“Kau tidak lihat aku sedang mendengarkan musik?”
“Maaf, aku tidak sengaja. Coba kulihat keningmu.”
***
Sudah dua hari semenjak kejadian itu, Tara tak lagi bertemu dengan Devon. Mungkin sahabatnya itu merasa bersalah dengan perbuatannya. Tapi memang itulah Devon, dia tidak pernah memikirkan kembali apa yang ingin dilakukannya.
“Sampai jumpa Tara.”
“Sampai jumpa.”, sahut Tara ceria sambil melambaikan tangannya.
Tara baru saja pulang belanja dengan teman-temannya.
“Mom aku pulang. Aku ke kamar dulu yaa.”
“Tara tunggu sebentar, ini ada paket untukmu.”
“Thanks, Mom.”
Sambil berlari kecil Tara naik menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Merebahkan tubuhnya sebentar, lalu bangkit karena ingat dengan sebuah paket kotak kecil. Dilihatnya dengan seksama kotak itu, dan terlihat sebuah pesan yang tertempel rapih di bawah kotak itu.
“Jadilah bintang seperti seharusnya...”
#bersambung....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar