it's all about me !!

Foto saya
This is an Imaginary world . love doesn't require me to be perfect, but it does require me to forgive. visit www.echisechis.tumblr.com

Jumat, 22 Juni 2012

:')

               "Mianhae (maaf), ku harap kau akan mengerti. dan aku yakin suatu saat kau akan mengerti tentang keputusan ini"

seorang yeoja  diam tak berdaya. wajahnya menyiratkan kesedihan yang mendalam. bayangan ketika namja yang dia sayangi pergi begitu saja dengan seuntai kata yang menurut yeoja ini tak berartikan apapun. hidupnya kini seakan hilang, dia bukan Kim He Ra yang dulu. 



             "hai namaku Justin, aku tetangga baru. Ibuku memintaku untuk mengantarkan cake buatannya", seorang pria dengan warna rambut blonde dan mata doklat madunya datang dengan senyum yang sangat ramah.
             "Baiklah, sampaikan pada Ibumu Thanks"
             He Ra tidak mau berlama-lama dengan tetangga barunya, ia tidak ingin berbicara apapun pada siapapun. sedangkan Justin dengan wajah herannya, hanya tersenyum setelah menerima perlakuan yang mungkin kurang sopan.
             He Ra hanya meletakan cake dari tetangga barunya itu di atas meja.
             "Dari siapa sayang?", seseorang menghentikan langkah He Ra.
             "Tetangga baru."
             "Sudah ucapkan terima kasih?"
             "Sudah."
             "Kemari, mom ingin bicara sama kamu"
             He Ra jalan dengan langkah terpaksa dan wajah yang tidak semangat. Padahal dulu, He Ra adalah seorang gadis yang ceria dan ramah pada siapapun.
             "Sampai kapan kau akan terus begini? Terus berlarut dalam kesedihanmu? Hidupmu masih panjang, jangan sia-siakan demi seorang pria yang seperti itu. kau harus kembali menjadi seperti dulu.do what you wanna do honey.", He Ra hanya diam mematung. "choose your own happiness. work hard for it. And you deserve it."
             Tanpa sadar bibir yeoja itu begetar, matanya terasa panas. Tak lama He Ra menangis seperti anak kecil. dengan segera mommy-nya menenggelamkan anak semata wayangnya itu ke dalam pelukannya.






             "Hei kau masih ingat aku?", tanya seorang namja kepada seorang yeoja yang sedang sibuk memandangi bintang. He Ra hanya meliriknya tanpa arti lalu kembali memandang bintang seperti semula. "Sepertinya aku harus memperkenalkan diriku lagi. Baiklah namaku Justin, Justin Gibson." . Dan keadaan -masih-tetap-hening. "Kau ini bisu atau tuli atau bagaimana? maksudku baik. aku hanya ingin mencari teman baru."
             "Aku tidak butuh teman, dan kalau kau mau mencari teman, cari saja orang lain.", jawab He Ra ketus.
             "Galak sekali. Kau ini seperti orang yang ga ada semangat hidup, seperti orang yang di tinggal kekasihnya tanpa kejelasan saja"
             DEG!!! seperti ada ribuan anak panah yang menghujam jantungnya saat tuduhan yang secara tidak langsung benar itu terlontar dengan baik dari mulut seorang namja yang dia baru kenal itu.
             "Kau tidak tau siapa aku, jadi kau tidak berhak mencampuri apapun tentang aku. Kalau aku memang baru saja di tinggal kekasih kau mau apa?!"
             "mwoya (apa katamu)? berarti benar apa yang aku tebak?", kini Justin sedikit menyesal telah mengatakan itu dan Justin pikir -memang- dia sedang menyinggung hati gadis yang berada di sebrang balkon kamarnya.
             He Ra hanya terdiam sambil terus menyesali dengan apa yang baru saja ia katakan.
             "Hei kau gadis patah hati, pria itu bukan cuma satu. kau kan bisa cari yang lain, cari orang yang benar-benar menyayangimu dengan setulus hati."
             "Kau ini mengguruiku? life is not easy", katanya sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.





             Semangat baru? He Ra sudah tidak memiliki salah satu poin terpenting itu dalam hidupnya. He Ra malah selalu hidup dalam masa lalunya yang hilang itu. Di waktu libur kuliah seperti ini He Ra hanya bisa duduk di balkon sambil membayangkan semua kenangan yang kini hilang, hingga akhirnya siang berganti malam.
             "Kau masih saja di situ gadis patah hati?" tidak ada respone pikir Justin. "Kau tau aku punya mimpi ingin mempunyai keluarga yang sempurna. Aku kehilangan daddy saat aku masih duduk di junior high school, daddy meninggal karena kanker tulang yang dia derita. dan kau tau? Aku sempat merasa sepertimu, aku sempat tidak memiliki semangat hidup. tapi bila aku terus seperti itu, bagaimana mommy??" Justin bercerita dengan menekankan setiap kata dengan penuh makna. "Kau baru saja kehilangan kekasih bukan kehilangan salah satu anggota keluarga yang sayangi saja kau sudah sebegitu menderita, apalagi bila kau menjadi aku? Mungkin kamu akan loncat dari balkon ini" Justin terkekeh kecil setelah berbicara.
             Selang beberapa waktu keadaan menjadi hening. keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. He Ra yang terus memikirkan setiap kata dari yang justin bilang, dan Justin memikirkan apa yang sedang di pikirkan He Ra.
             "Kamu hanya perlu menunggu waktu yang tepat gadis patah hati. Gak selamanya hidup itu bakalan sulit. Ada kalanya kehidupan manusia itu berjalan di atas dan PASTI ada saatnya berada di bawah. Kamu harus terus memiliki semangat hidup."
             He Ra menundukan kepalanya. Tapi pundaknya bergetar. Ia sangat tau He Ra sedang menangis. Justin melompat ke balkon He Ra, dan dengan sigap menenggelamkan wajah gadis patah hati itu ke dalam dadanya yang lumayan bidang. gadis itu, gadis patah hati menangis cukup kencang di dalam pelukan Justin.
             "Tidak apa-apa, teruskan saja. keluarkan semuanya. Tapi setelah itu kau harus berjanji jangan menangis lagi karena laki-laki itu. Mengerti?" dapat di rasakan Kim He Ra mengangguk tanda setuju.





             Sebulan berlalu, kedekatan Justin dan He Ra semakin nyata. He Ra menepati janjinya, He Ra tidak lagi pernah menangis karena pria itu. Dan mungkin kini hatinya sedang di penuhi oleh satu nama. He Ra sepertinya menaruh hati kepada Justin. Tapi He Ra masih takut akan kegagalan di masa lalunya. Saat sedang tiduran di dalam kamarnya, ponsel He Ra bergetar.
             
             from: Justin
             Gadis patah hati, kau ada di rumah?
             Ada yang harus aku katakan, cepat ke balkon. Aku menunggumu di ayunan balkonmu.

             Tidak terasa, bibir He Ra memperlihatkan seulas senyuman. Tanpa pikir panjang He Ra langsung memutar knop pintu balkonnya dan langsung menemui Justin yang sedari tadi duduk di ayunan kamarnya. Justin tersenyum dan langsung menepuk tempat di seblahnya yang mengisyaratkannya untuk duduk di sebelahnya. Dengan membalas senyum, He Ra datang.


             "Kok malah diem? kamu mau bilang apa? katanya ada yang mau di bilang?"
             "Mmmmh begini", Justin menggeser duduknya menghadap He Ra dan memandang He Ra lekat-lekat. "Saranghae Kim He Ra". He Ra hanya terkekeh geli mendengar aksen Justin. "Kenapa kau ketawa? Aku sedang serius"
             "Aku hanya lucu mendengar aksenmu. Lanjutkan"
             "Haaaah begitu saja kau tertawa. He Ra, kau tau kan aku bukan namja yang bisa mengarang kata-kata manis. Aku tidak bisa melakukan semuanya. Tapi tentang aku suka kamu, itu benar." "Kau mau jadi kekasihku? Aku akan menunjukan bahwa aku baik, aku bukan seperti masa lalumu."
             "shireo (tidak mau)"
             Jawaban singkat itu membuat Justin tertegun. Tersirat rasa kecewa di mata pria dengan mata madu nya. "Arraseo (aku mengerti)" jawab Justin dengan senyum yang di paksakan.
             "Ani (tidak). Aku hanya bercanda. Aku mau Justin , aku mau jadi kekasihmu. Tapi berhenti memanggilku gadis patah hati, aku sudah tidak patah hati"
             Raut kecewa Justin berganti dengan kekehan kecil dan mata yang memancarkan kegembiraan, "Baiklah aku tidak akan memanggilmu gadis patah hati lagi. Karena sekarang kau kan sudah punya aku, jadi tidak usah patah hati lagi." He Ra hanya terkekeh geli mendengar kata-kata Justin.







             Seminggu berlalu. Pasangan kekasih yang baru menjalin hubungan seminggu ini semakin lama semakin lengket. Mereka berdua seperti tidak bisa di pisahkan. 

             "Kau mau mampir Justin? Aku akan membuatkan kamu teh herbal hangat."
             "Baiklah, ayo masuk. Hujan semakin deras saja."
             Justin dan Kim He Ra berlari sambil saling menggenggam tangan masuk ke dalam rumah. Tapi di ruang tamu rumah He Ra ada seorang wanita paruh baya tengah berbincang dengan mommy-nya.
             


********************************************************************************


             Bisakah aku mengampuni? Bisakah aku menerima semua ini?

             Di genggamnya tangan seorang laki-laki yang terkujur lemah di atas ranjang sebuah rumah sakit. Wajahnya yang dulu segar dan penuh senyum, kini hanya terlihat lesu dan pucat. Tak ada lagi semangat hidup yang menghiasi setiap derap jantung. Mulutnya yang kaku seakan ingin berbicara meminta maaf atas semua yang telah ia lakukan kepada gadis yang sangat ia cintai itu.

             "Yesung terkena kanker Tulang stadium akhir. Kemungkinannya untuk bertahan hidup hanya sedikit. Dia meninggalkanmu bukan karena dia tidak mencintai kamu. Setelah dia meninggalkanmu kesehatannya semakin buruk. Tidak ada lagi semangat hidup dalam dirinya. Dia menyembunyikannya darimu karena dia ingin kamu tidak kecewa, dan dia terus mengatakan padaku bahwa kamu harus bahagia dengan orang yang tepat"

              Kata-kata ibunda dari Yesung, mantan kekasih He Ra terus terngiang di dalam pikiran gadis itu. Airmatanya terasa sulit untuk di hentikan. Yesung tidak bisa apa-apa, tubuhnya seperti hanya di balutkan dengan kulit. Kurus, sangat kurus.
             Tangannya berusaha meraih pipi dari gadis yang pernah ia lukai itu. He Ra menikmati setiap sentuhan di pipinya. Dengan airmata masih membanjiri wajah mungilnya. Dengan bermodalkan secarik kertas dan sebuah pensil, namja itu berusaha untuk menuliskan sesuatu.

             "Mianhae."

             "Jangan bilang seperti itu. Aku masih menyanyangimu Yesung. Jangan tinggalkan aku, berjuanglah untukku. Aku tidak akan meninggalkanmu."

             "He Ra"
             Gadis dengan rambut panjang terurai itu terkejut saat melihat ternyata Justin yang memanggilnya. Sorot mata Justin sendu, sorot matanya mengisyaratkan kesedihan. He Ra tak bisa berkata banyak, lidahnya seakan kelu. He Ra menatap Yesung dan Justin bergantian.

             Tuhan bisakah aku memilih? Sanggupkah aku?

             "Gwaenchana (tidak apa-apa), aku mengerti. Aku pernah merasakan apa yang kau rasakan. Melihat seorang yang kita sayangi tergeletak lemah tanpa berdaya. Bahkan dengan penyakit mengerikan yang sama." Justin berjalan mendekati gadis yang dia sayanginya itu. 
              "Aku tau kamu menyayanginya, aku tau kamu gak akan mau liat dia kaya gini. Tapi aku gak akan biarin kamu pergi."

              ǁ  I will be brave
I will not let anything take away What’s standing in front of me ǁ

"Aku bakalan nunggu kamu Kim He Ra. Aku gak akan biarin kamu pergi gitu aja. Tapi aku bakalan biarin kamu merawat orang yang kamu sayang. Aku ngerti banget perasaan kamu. Tapi jangan takut, aku selalu ada buat kamu. Aku selalu jaga perasaan aku buat kamu. Kapanpun kamu mau datang, hati aku selalu terbuka buat kamu."

ǁ  I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you For a thousand years I love you for a thousand more ǁ


"mianhae Justin and gomawo (terima kasih)"






********************************************************************************

 
             Satu tahun berlalu, keadaan sudah jauh berbeda. Justin meneruskan kuliahnya di Swiss. Sedangkan He Ra tetap di Korea, melanjutkan kuliahnya. Yesung? Yesung meninggal 4 bulan yang lalu. Yesung bilang He Ra tidak boleh belarut dalam kesedihannya yang mendalam. Kini He Ra menjadi He Ra yang biasa, He Ra yang ceria. Setiap ada waktu He Ra selalu datang ke makam Yesung, terkadang dia datang hanya untuk menceritakan apa yang terjadi hari itu. He Ra juga gak lupa mengunjungi rumah tetangga sebelahnya. Rumah Justin. He Ra datang untuk mengunjungi mrs.Gibson.

Hari ini gadis bertubuh mungil itu meluangkan waktunya untuk datang ke makan Yesung. Setelah memberikan hormat dan meletakan bunga, He Ra berjongkok.
"Kau tau Yesung, aku kesepian. mommy sedikit sibuk akhir-akhir ini. Aku jadi tidak punya teman untuk berbicara. Bahkan Justin juga belum kunjung pulang. Kata mrs. Gibson dia pergi ke Swiss untuk melanjutkan kuliah, tapi aku gak tau kapan dia akan kembalik. Aku sedikit merindukannya. Aku harap dia sudah mempunyai yeoja lain dan...."
"Dan apa? Dan setelah menerima undangan pernikahanku kau akan loncat dari balkonmu?"
He Ra membalikan badannya dan mencari-cari asal suaranya. Gadis itu hanya tertegun melihat namja dengan mata madu dan senyum khasnya yang sangat dirindukannya.
"Aku kembali Kim He Ra, Aku selalu jaga perasaan aku buat kamu. Kapanpun kamu mau datang, hati aku selalu terbuka buat kamu. Itu kan yang pernah aku katakan padamu? Jadi jangan pernah berharap kalau aku akan menemukan yeoja yang lebih baik dari kamu."
"Justin?"





 Seperti kata mommy: "choose your own happiness. work hard for it. And you deserve it."
-Kim He Ra-


Hidup itu bukan harus selalu memilih, tapi kadang kala kita harus menunggu.
-Justin Gibson-


Kadang apa yang kita pikirkan baik, tidak selamanya baik di mata orang lain.
-Yesung-


Hidup itu udah cukup susah, sebaiknya jangan di buat tambah susah.
Sedikit bersabar mungkin akan membawa kebaikan dikemudian hari.
-Author-

-END-